BAB I : PENDAHULUAN ...........................
1
A. Latar Belakang Masalah
............. 1
B. Rumusan Masalah
.................... 13
C. Tujuan Penelitian
.................. 13
D. Telaah Pustaka
..................... 14
E. Metode Penelitian
.................. 17
F. Sistematika Pembahasan
............. 18
BAB II : METAFISIKA DALAM FILSAFAT
JAWA
A. Pengertian Metafisika .............. 20
B. Metafisika Dalam Kesusasteraan Jawa .. 24
C. Metafisika
Dalam Pandangan Hidup Jawa .. 30
BAB III : GAMBARAN UMUM
SERAT WEDHATAMA ......
35
A. Biografi
Penulis Serat Wedhatama ... . 35
B. Versi Lain Penulis Serat Wedhatama ..... 39
C. Arti Serat Wedhatama ....................41
D. Ringkasan Isi serat Wedhatama ......... 42
E. Naskah
Serat Wedhatama 48
BAB IV : KONSEP METAFISIKA DALAM
SERAT WEDHATAMA ........................
A. Konsep Tuhan Dalam Serat Wedhatama .. 50
1.Tuhan
Sebagai Dzat Yang Mutlak ..... 50
2.Yang Fana Dan Abadi ................ 61
B. Dualisme yang Tunggal
(manunggaling kawula gusti).......... 56
C. Kosmologi dalam Serat Wedhatama .... 64
BAB
V : PENUTUP ................................ 75
A. Kesimpulan
........................ 75
B. Saran-Saran
....................... 78
DAFTAR PUSTAKA ............................... 79
MOTTO
Hidup adalah dua
momentum pilihan manusia, yaitu momen saat ini dimana kita bebas memilih apapun
yang kita inginkan, dan momen kematian, ketika kita tidak lagi bisa memilih
pilihan apa pun, karena semua keputusan ada di tangan Tuhan.
( MUHAMMAD ZAINUDDIN
2003 )
persembahan
kupersembahkan
karyaku ini kepada:
AYAH DAN IBUNDA DI TIMOR NAN JAUH
Terima
kasih yang sebesar-besarnya atas segala cucuran keringatnya yang tak pernah
kering, doa serta nasehatnya yang selalu menyertaiku, pengorbanannya yang tak
kenal waktu hingga aku mengerti siapa aku dan mengenal arti dunia
ABSTRAK
Wacana tentang metafisika yang merupakan
hasil pemikiran filsafat yang bertolak dari eksistensi manusia dan alam-dunia
sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap dengan panca indera. Bukanlah dasar
yang dicari dan dipertanyakan untuk mencapai kesempurnaan hidup seperti yang
terjadi pada filsuf-filsuf Yunani, melainkan dari mana dan kemana semua wujud
ini berasal dan berakhir atau dalam istilah Jawa disebut dengan sangkan
paraning dumadi dan manungsa ( awal dan akhir dari alam semesta dan
manusia berasal dari Tuhan)
Dalam skripsi ini ada beberapa pokok
permasalahan yang akan dibahas, pertama; bagaimana konsep metafisika dalam
filosofi jawa, kedua; bagaimana konsep metafisika yang terkandung dalam serat
Wedhatama, penulis memakai metode analisis dan pendekatan sejarah. Tema
yang penulis angkat adalah masalah metafisika jawa yang terkandung dalam serat
wedhatama hasil karya K.G.P.A.A Mangkunegara IV, penulis mencoba melakukan
analisis terhadap konsep metafisika Jawa khususnya konsep metafisika yang
terkandung dalam serat wedhatama.
Sebagai salah seorang pujangga besar,.
Mangkunegara IV ssdalam hasil karyanya banyak membicarakan tentang etika, seni,
mistik, dan juga metafisika. Dalam serat wedhatama konsep metafisika
Mangkunegara IV adalah mencapai hidup tertinggi yaitu mencapai kesatuan kembali
dengan Tuhan yaitu deangan jalan penghayatan dan penguasaan batin yang diolah
dan dilatih dalam sembah catur sebagai tangga menuju insan kamil.
Konsep metafisika Jawa dalam serat
wedhatama menjelaskan bahwa manusia pada hakekatnya hidup pada alam tiga
dimensi, dan eksistensi manusia tidak bisa lepas dari ketiga dimensi tersebut,
baik yanag berupa alam benda, alam batin maupun alam ghaib. Tujuan hidup
tertinggi menurut filosofi Jawa adalah untuk mencapai kesempurnaan, dalam serat
wedhatama dijelaskan dan digambarkan bagaimana manusia harus meningkatkan
atau mentransformasikan dirinya dari dunia materi yang fana menuju kehidupan
mutlak dan kekal kepada Tuhan sebagai akhir dari kesempurnaan yang hakiki.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah
berdirinya suatu kerajaan, istana atau keraton mempunyai fungsi ganda. Di samping sebagai pusat pemerintahan, istana berfungsi pula sebagai pusat kebudayaan.[1]
Sebagai pusat kebudayaan, Pemerintahan kerajaan banyak menghasilkan peninggalan
bersejarah yang bersifat monumental berupa bangunan bersejarah yang mempunyai
nilai seni yang tinggi dan masih dapat di saksikan hingga sekarang, Seperti
Candi Prambanan maupun peninggalan kerajaan Mataram (Hindu),Candi penataran
peninggalan kerajaan Majapahit, Candi Borobudur, Masjid Demak, serta istana
Surakarta, dan istana Yogyakarta yang masih eksis hingga sekarang. Peninggalan
bersejarah yang bersifat monumental itu dapat pula berupa karya sastra. Misalnya, Ramayana
merupakan peninggalan kerajaan Mataram (Hindu), Mahabharata merupakan
peninggalan kerajaan Medang, Arjuna Wiwaha (Karya Empu Kanwa) merupakan peninggalan kerajaan kahuripan, Baratayuda (karya
Empu Sedah
dan Empu Panuluh) merupakan
peninggalan kerajaan kediri, negara kertagama (karya prapanca) merupakan
peninggalan kerajaan Majapahit dan masih banyak lagi peninggalan-peninggalan
kerajaan Islam yang berupa serat dan suluk, seperti; suluk syekh al-Bari
merupakan peninggalan kerajaan Demak, serat nitipraya merupakan
peninggalan kerajaan Mataram (Islam) dan sebagainya.[2]
Sesudah
kerajaan Mataram terpecah menjadi empat kerajaan, seperti, Surakarta,
Ngayogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman, yang keempatnya telah kehilangan
kekuasaan politik, kenegaraaan, dan otoritas pemerintahan diambil alih di bawah
pengawasan pemerintah kolonial Belanda. Dengan kehilangan kekuasan politik dan
kekuasaan pemerintahan, maka pemikiran aktivitas istana dapat dipusatkan bagi
perkembangan rohani dan kebudayaan spiritual, usaha ini merupakan satu-satunya
jalan untuk mempertahankan wibawa istana sebagai pusat kebudayaan jawa.[3]
Maka
dimulailah penulisan karya sastra yang tidak lepas dari peran para pujangga
sastra yang umumnya memang secara khusus ditunjuk oleh para raja untuk membuat
tulisan pesanan yang biasanya berupa seluk beluk kerajaan serta silsilahnya,
atau beberapa hal mengenai kebijakan pemerintah yang berisi tentang kebaikan
raja dan kerajaan. Akan tetapi kadangkala seorang pujangga juga ditugasi oleh
kerajaan untuk menulis syair, babad atau sejarah, ramalan, serta cerita wayang.[4]
Turut sertanya
raja membangun sastra jawa sangat berpengaruh terhadap perkembangan sastra jawa
di tengah masyarakat. Karena kedudukan raja sebagai tokoh sentral dalam
masyarakat jawa yang serba magis dan mistis, sebagian besar masyarakat
memandang serat-serat sastra karya para raja sebagai pedoman yang harus
diikuti. Bahkan secara fisik, naskah miliknya dipandang sebagai benda pusaka
yang memiliki tuah, sebagaimana benda-benda keraton lainnya yang mengandung
nilai magis. Faktor tersebut kiranya menjadi salah satu pendukung berkembangnya
sastra jawa abad XVIII dan XIX di Surakarta dan Yogyakarta. Masa tersebut oleh
Pigeaud dinamakan renaissance sastra Jawa atau kebangkitan sastra Jawa.[5]
Kebangkitan
rohani dan kesusastraan Jawa baru ini bermula semenjak pusat kerajaan Mataram
di pindahkan dari kartasura ke Surakarta, atau tepatnya sejak tahun 1757 M, dan berlangsung selama kurang
lebih 125 tahun, yaitu sampai wafatnya Raden Ngabehi Ranggawarsita tahun 1773
M, yang sering disebut sebagai pujangga penutup (as the coping stone of
Javanese write). Atau lebih tepatnya berakhir pada tahun 1881 M, dengan
wafatnya penyair kenamaan Aryo Mangkunegara IV. Kebangkitan spiritual ini
menghasilkan perkembangan dan kesusilaan (etika) kesusasteraan dan bahasa Jawa,
serta kesenian, serta seni tari, musik dan Syair Jawa.[6]
Berkaitan
dengan itu karya-karya sastra yang ditulis oleh para pujangga kraton, misalnya Babad
Tutur dan serat Wedhatama, tentu saja tak lepas dari keinginan serta
imajinasi pribadi penulisnya, kedua karya sastra tersebut dianggap
representatif sebagai rujukan bagi sastra Jawa-Islam karena telah berhasil
menampilkan refleksi dari keluarga kraton tentang realitas sosial (dalam Babad
Tutur) dan serta nasehat atau pitutur bagi masyarakat tentang
kehidupan beragama serta adab sopan santun dan kehidupan rumah tangga (serat
Wedhatama).
Serat
Wedhatama dan Babad Tutur
yang yang ditulis oleh KGPA Mangkunegara IV pada abad XIX, merupakan dua buah
karya sastra yang barangkali cukup representatif untuk mewakili gambaran umum
sastra Jawa abad XVIII-XIX.[7]
Menurut Sri
Suhandjati secara keseluruhan, isi serat Wedhatama merupakan sebuah refleksi
dari olah cipta seorang penguasa kerajaan yang jauh dari kesan arogan dan
feodalistik, sebaliknya pengaruh dari sebuah komitmen yang tinggi terhadap
agama dan pelestarian budaya serta kemajauan negara tampaknya sangat kental.
Hal ini terlihat dari beberapa karya atau tembang-tembang yang lain, yang
tertulis dalam buku tersebut, terutama tentang ajaran sembah, budiluhur,
ibadat, akhlak, serta beberapa nasihat tentang kehidupan berkeluarga, termasuk
nasihat untuk pawestri (wanita).[8]
Sehingga Wedhatama
pada zamannya sangat terkenal. Bukan saja didalam lingkungan istana
Mangkunegaran saja tetapi juga istana kasunanan maupun kasultanan Yogyakarta.
Bahkan Wedhatama dikenal dan dihafal sampai dipelosok-pelosok desa yang
berbahasa Jawa, meskipun hanya satu dan dua bait tetapi mereka itu hafal luar
kepala.[9]
Sehingga Wedhatama merupakan sebuah falsafah atau petunjuk hidup. Karena Wedhatama
bersifat relijius dan menjadi “agama ageming aji kang tumrap neng tanah
Jawa”.[10]
Pada masa kini
serat Wedhatama masih banyak dipelajari dan diteliti oleh para sarjana
baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Akan tetapi kebanyakan yang
dipelajari dan diteliti dalam serat Wedhatama adalah unsur etika dan
mistiknya. Sementara kalau kita pelajari dan teliti lebih mendalam banyak
sekali kandungan dan hikmah dalam serat Wedhatama itu, sebagaimana dikatakan Drs.R.Parmono dalam bukunya yaitu;
“pandangan serat Wedhatama dalam beberapa cabang filsafat” didalam
naskah penelitian itu dikemukakan ada tiga cabang filsafat yaitu: metafisika,
Filsafat manusia,dan etika atau filsafat tingkah laku.[11]
Sehubungan
dengan hal diataslah yang mendorong penulis untuk mengungkapkan salah satu
pandangannya tentang metafisika Jawa dalam serat Wedhatama yang menurut penulis belum ada yang mengkaji
dan meneliti tentang hal itu secara lebih mendalam, dalam rangka memperkaya
khazanah kefilsafatan di Indonesia pada umumnya dan filsafat Jawa pada
khususnya.
Menurut
Marbangun Hardjowirogo, semua orang Jawa itu berbudaya satu mereka berfikir dan
berperasaan seperti moyang mereka di Jawa tengah dengan kota Solo dan Jogja
sebagai pusat-pusat kebudayaan. Dalam penghayatan hidup budaya mereka, baik
yang yang tinggal di pulau Jawa maupun yang tinggal di pulau-pulau lain bahkan
juga yang tinggal di Suriname orientasi nilai mereka tetap terarah ke kota Solo
dan Jogja. Oleh sebab itulah kesatuan budaya yang dipegang oleh orang Jawa
sebagai penduduk terbesar di Indonesia ini mau ataupun tidak, mempunyai
pengaruh yang cukup besar terhadap budaya Indonesia[12].
Suku-suku
bangsa Indonesia khususnya Jawa sebelum kedatangan pengaruh Hinduisme telah
hidup teratur dengan Animisme-Dinamisme sebagai akar religiositasnya, dan hukum
adat sebagai pranata sosial mereka, adanya warisan hukum adat menunjukkan bahwa
nenek moyang suku bangsa Indonesia asli telah hidup teratur dibawah
pemerintahan atau kepala adat, walaupun masih dalam bentuk sangat sederhana.
Religi Animisme-Dinamisme yang menjadi akar budaya asli Indonesia khususnya
masyarakat Jawa cukup memiliki daya tahan yang kuat terhadap pengaruh
kebudayaan-kebudayaan yang telah berkembang maju.[13]
Seiring perjalan waktu, peradaban Jawa
yang berpusat di istana raja-raja Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan
perpaduan yang bercorak mistis antara doktrin dan praktek Hindu-Budha dan Islam
yang bercorak sinkretisme menghasilkan peradaban yang disebut kejawen.
Yang dalam sejarah Jawa kemudian menyatu dalam sebuah filsafat mengenai
prinsip-prinsip bertindak dalam kehidupan.
Sebagai sebuah sistem penulisan,
Jawanisme itu cukup rumit dan luas meliputi Kosmologi, Mitologi, seperangkat
konsep-konsep yang Mistis pada
hakekatnya dan hal-hal lain yang serupa itu, muatan-muatan itu memunculkan
antropologi Jawa sebuah sistem gagasan tentang watak manusia dan masyarakat
yang pada gilirannya, mewarnai etika, adat-istiadat dan gaya hidup. Pendeknya,
Jawanisme memberikan sebuah semesta umum pemaknaan ini berisi sekumpulan pengetahuan tentang penafsiran
masyarakat Jawa tentang kehidupan sebagaimana adanya dan bagaimana seharusnya.[14]
Kepustakaan
Islam kejawen adalah salah satu kepustakaan Jawa yang memuat perpaduan antara
tradisi Jawa dengan unsur-unsur ajaran Islam. Terutama aspek-aspek ajaran
tasauf dan budi luhur yang terdapat dalam perbendaharaan kitab-kitab tasauf.[15]
Pada masa Surakarta, tahun 1744 pertumbuhan kepustakaan Islam kejawen mengalami
masa gemilang, sesudah kerajaan dipecah menjadi tiga negara Surakarta,
Yogyakarta, dan Mangkunegaran, semua kekuasaan dirampas oleh Belanda. Oleh
karena itu seluruh perhatian dan kegiatan istana diarahkan untuk perkembangan
kebudayaan rohani. Kegiatan ini menghasilkan perkembanagan dalam bidang
kesusastraan dan berbagai cabang kesenian. Perkembangan dalam lapangan
kesusastraan ini sedemikian indahnya, sehingga para peneliti barat, seperti G.W.J
Drewes menilai sebagai masa renaisssance of modern Javanese letters,
yaitu masa kebangkitan kepustakaan Jawa baru. Kebangkitan kepustakaan Jawa
berlangsung selama 125 tahun, dari tahun 1757 sampai tahun 1873 (dengan
wafatnya pujangga Ranggawarsita), atau bahkan sampai tahun 1881 (dengan
wafatnya pujangga Ranggawarsita dan raja Mangkunegara IV).[16]
Pada tahun 1940 Prof. Dr.I.J Brugmans
seorang sarjana Belanda dengan gegabahnya mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada “Filsafat
Pribumi” (autochtone philosophie) tetapi
yang ada adalah “Filsafat Barat” , jadi orang Indonesia tidak dapat
berbicara tentang filsafat pribumi (Nusantara) pernyataan Brugman mendapat
tanggapan dari Prof.Dr.P.J Zoet Mulder, bahwa memang benar ada perbedaan-perbedaan
sistem filsafat Barat dengan pernyataan filsafat Timur (Jawa) itu sendiri. Di
Timur orang mempelajari filsafat hampir boleh dikatakan, tidak pernah
mempelajari filsafat demi ilmu filsafat itu sendiri dan sebagai arena aktivitas
otak seperti yang terjadi di Barat.[17]
Tetapi justru hikmah yang terpenting
dan tertinggi yang menjadi puncak dari filsafat di Timur adalah mengenal Tuhan
dan dan berhubungan dengan-Nya. Jadi filsafat Timur tidak meninggalkan “ngelmu
atau olah rasa, yaitu sarana untuk mencapai kesempurnaan dalam mencapai kamuksan”
atau ”kelepasan” sebagai akhir dari segala akhir tujuan hidup.[18]
Pernyataan Brugman diatas sangat bertentangan sekali dengan fakta yang terjadi
dilapangan dimana kesusastraan Jawa yang bernilai seni tinggi itu dimana
mencapai puncaknya pada masa pujangga Ranggawarsita dan Mangkunegaran IV yang
menghasilkan dokumen-dokumen tertulis karya para pujangga atau ahli sastra yang
mengandung unsur-unsur filsafat Jawa antara lain: Serat Wedhatama, Serat
Kalatidha, Serat Centini, Serat Hidayat Jati, Wulang Reh, cerita wayang Mahabharata maupun Ramayana. Belum lagi
yang terdapat dalam lagu-lagu rakyat, legenda, mitologi, cerita babad tanah
Jawi dan sebagainya.[19]
Dari pemaparan diataslah yang
mendorong penulis untuk melakuan suatu kajian dan penelitian lebih mendalam
tentang filsafat Jawa terutama tentang konsep metafisikanya dalam serat
wedhatama.
B. Rumusan Masalah
Dari latar
belakang diatas memunculkan beberapa pokok permasalahan yang dapat dirumuskan
sebagai berikut:
- Bagaimana konsep metafisika dalam
filsafat Jawa ?
- Bagaimana konsep metafisika yang
terkandung dalam serat Wedhatama ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan terpenting yang
ingin dicapai dari penelitian ini adalah bagaimana mendapatkan gambaran yang
jelas dan utuh mengenai konsep metafisika dalam filsafat jawa, khususnya
tentang konsep metafisika dalam serat wedhatama.
Penelitian juga
diharapkan dapat memberikan pemahaman dan kesadaran tentang arti pentingnya
penghayatan dan pengamalan konsep filosofi Jawa terutama tentang konsep
metafisika Jawa dalam serat wedhatama sebagai pedoman dari dampak arus
globalisasi yang banyak menyesatkan manusia.
D. Telaah Pustaka
Serat
Wedhatama yang dikarang
oleh; Mangkunegara IV pada abad XIX
merupakan falsafah hidup khususnya bagi masyarakat Jawa pada masa itu.[20]
Namun dalam perkembangannya hingga kini serat Wedhatama yang
berisi tentang petunjuk atau pedoman untuk menjadi manusia yang berbudi luhur
dalam mencapai keberhasilan hidup lahir dan batin. Sangat digemari baik
kalangan muda dan tua karena Serat Wedhatama adalah suatu kitab yang
padat dan ringkas yang disusun dalam bentuk sekar macapat dengan sastra
yang amat indah, terutama sangat digemari oleh para pecinta kepustakaan dan
kesenian Jawa. Bahkan isi dan kandungan ajarannya tentang budiluhur (etika)
disejajarkan dengan etika dan pemikir-pemikir besar dunia Barat dan mirip
dengan etika Aristoteles (384-322 SM).[21]
Sehingga
sangat wajar bila Serat Wedhatama banyak dikaji dan ditelaah oleh para
pemikir-pemikir dan sastrawan dalam negeri maupun Barat seperti terjemahan
Serat Wedhatama oleh; Drs. S.Z. Hadisutjipto yang dikeluarkan oleh; yayasan
Mengadeg tahun 1975, “Wedhatama Jinarwa” oleh: R.Tanoyo yang diterbitkan
oleh Fa. Triyana 29 juli 1963, Soedjonoredjo R.”Wedhatama winardi” dalam
huruf Jawa krama inggil disertai penjelasan arti dan maknanya, Menyingkap
Serat Wedotomo oleh: Anjar Any Semarang: Aneka Ilmu,1986.
Kajian tentang
Serat Wedhatama banyak juga dikaji oleh beberapa mahasiswa IAIN Sunan
Kalijaga yang penulis ketahui kurang lebih ada 12 orang yang mengangkat tentang
Serat Wedhatama sebagai kajian dalam skripsinya diantaranya: penelitian
yang dilakukan oleh; Siti Nur a’ini sukrillah dengan judul “Konsepsi Moral
Dalam kitab Wedhatama” (1981), Bahron Zidni Rais dengan judul “Manusia
Menurut Serat Wedhatama” (1983), H.M Mubari dengan judul”Ajaran Mistik
Dalam Serat Wedhatama” (1982), Warits Lukmatun Hakimah dengan judul “Muatan
Etika dalam Serat Wedhatama” (1998), dan sebagainya. Dari kedua belas judul
skripsi yang ditulis tentang Serat Wedhatama tersebut belum ada satupun
yang membahas tentang kajian metafisika, kebanyakan skripsi yang mereka angkat
tentang persoalan etika, manusia, dan mistik Islam kejawen dalam dalam
kajiannya.
Sementara itu dalam bukunya yang
berjudul; “Menggali Unsur-unsur Filsafat
Indonesia” Yang di tulis oleh; Drs.R. Parmono yaitu “pandangan Serat
Wedhatama dalam beberapa cabang Filsafat”. Didalam naskah penelitian yang
dikemukakan bahwa dalam serat Wedhatama terdapat tiga cabang filsafat yaitu;
Metafisika, Filsafat manusia, dan Etika.
Berangkat dari penjelasan
Drs.R.Parmono yang mendorong penulis untuk mengkaji dan menulis skripsi tentang
“Metafisika Jawa dalam Serat Wedhatama “ dalam hal ini penulis ingin meneliti
tentang kajian metafisika yamg terdapat dalam Serat Wedhatama yang belum banyak
diungkap dan dikaji secara luas, dalam hal ini yang penulis ketahui baru Drs.
Parmono dalam bukunya “Menggali Unsur-unsur Filasafat Indonesia “ terbitan
Yogyakarta: Andi Offset 1985 halaman 94-101, yang juga merupkan hasil
penelitian DPPM 1981/ 1982, yang menyinggung persoalan Metafisika dalam Serat
Wedhatama, tetapi apa yang diungkapkan dan diteliti oleh Drs.Parmono dalam
bukunya tersebut masih secara garis besar dan belum mengungkapkan serta
menganalisa seluruh pandangan Serat Wedhatama Mengenai Metafisika secara
lebih luas dan mendalam.
Dalam penulisan skripsi ini penulis
mencoba mengungkap kandungan metafisika Jawa yang terkandung yang penulis angkat yaitu “Metafisika Jawa
Dalam Serat Wedhatama”.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah kepustakaan (library research),yaitu menelusuri
literatur-literatur yang ada relefansinya dengan masalah yang sedang dibahas maka penulis menggunakan dua model sumber
data yaitu sumber data primer dan sumber data skunder.
Sumber data primer adalah yang
berhubungan langsung dengan konsep yang sedang dikaji yaitu buku yang mengkaji
tentang Serat Wedhatama terutama Serat Wedhatama karya K.G.P.A.A
Mangkunegara IV sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari
literatur-leteratur lain yang relevan
dengan topik kajian ini baik dari buku, artikel, majalah, maupun sumber-sumber
terkait lainnya.
Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis,
yaitu suatu bentuk penelitian yang meliputi proses pengumpulan data,
penyusunan, penjelasan atas data kemudian dianalisis, sehingga metode ini
sering disebut sebagai metode analitis.[22]
Yaitu berupaya memaparkan isi ajaran metafisika yang terkandung dalam Serat
Wedhatama secara sistematis dan sedetail mungkin.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk memperoleh hasil yang utuh dan
sistematis agar memudahkan proses penelitian dan masalah yang diteliti dapat
dianalisa secara tajam, maka pembahasan dalam penelitian ini disusun sebagai
berikut:
Bab Pertama adalah berupa Pendahuluan yang
berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian,
telaah pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua adalah, metafisika dalam
filsafat jawa yang berisi tentang pengertian metafisika, metafisika dalam
filsfat Jawa dan metafisika dalam kesusastraan Jawa.
Bab ketiga adalah, merupakan bagian yang
mengupas tentang Serat Wedhatama, biografi Mangkunegara IV, penulis Serat
Wedhatama, isi ringkas Serat Wedhatama.
Bab Keempat adalah, merupakan inti dari
pembahasan Tentang Serat Wedhatama terutama tentang kajian metafisika yaitu; Tuhan
sebagai dzat yang mutlak, Dualisme tunggal, Kosmologi dalam Serat Wedhatama,
Yang Fana dan Abadi.
Bab Kelima Merupakan bab akhir
yang berisi penutup yang terdiri dari
kesimpulan, saran dan kata penutup.
BAB
II
METAFISIKA DALAM FILSAFAT JAWA
Pengertian Metafisika
Sebagai sebuah disiplin filsafat, metafisika telah
dimulai sejak zaman yunani kuno, mulai dari filosof-filosof alam sampai
Aristoteles (284-322 SM). Aristoteles sendiri tidak pernah memakai istilah
”metafisika” Aristoteles menyebut disiplin yang mengkaji hal-hal yang sifatnya
di luar fisika sebagai filsafat pertama (proto philosophia)untuk
membedakannya dengan filsafat kedua yaitu disiplin yang mengkaji hal-hal yang
bersifat fisika. Istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari
bahasa Yunani ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah
fisik”. Istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap
karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika.[23]
Aristoteles
dalam bukunya yang berjudul Metaphysica mengemukakan beberapa gagasannya
tentang metafisika antara lain:
- Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu
pengetahuan yang mencari pronsip-prinsip fundamental dan penyebab-penyebab pertama.
- Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari
yang ada sebagai yang ada (being qua being) yaitu keseluruhan kenyataan.
- Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai
obyek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh adaan,
yang mana ilmu ini sering disebut dengan theologia.[24]
Dari
ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut, sebenarnya terdapat dua obyek yang menjadi
metafisis Aristoteles yaitu, (a) yang ada sebagai yang ada being qua being
dan (b) yang Ilahi. Namun demikian Aristoteles sendiri tidak menjadikan dua
obyek kajian sebagai obyek bagi dua disiplin ilmu yang berbeda. Seorang
filosof Jerman bernama Christian Wolff
cenderung meyakini bahwa pembicaraan tentang yang ada sebagai yang ada dan yang
Ilahi harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. Oleh
karenanya, Wolff memilah filsafat pertama Aristoteles menjadi metaphysica
generalis (metafisika umum) atau juga sering disebut ontologi dan
methapysica specialis (metafisika khusus).
Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang
ada, artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas, sedang metafisika
khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus:
teologi, kosmologi dan psikologi. Pemilahan Wollf tersebut didasarkan pada
dapat tidaknya dicerap melalui perangkat inderawi suatu obyek filsafat pertama.
Metafisika umum (untuk seterusnya digunakan istilah ontologi) mengkaji realitas
sejauh dapat diserap melalui indera sedang metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak
dapat diserap indera, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai
keseluruhan (kosmologi) maupun kejiwaan (psikologi). Kedua disiplin filsafat pada dasarnya tidak sepenuhnya terpisah satu
sama lain karena menurut Wollf sendiri pembahasan metafisika tentang realitas
supra inderawi, terkait dengan pembahasan ontologi tentang prinsip-prinsip umum
yang menata realitas inderawi.[25] Terlepas dari perbedaan mengenai istilah metafisika dan keengganan orang akan
metafisika, kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama,
metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan
filosofis. Kedua, seperti yang dikatakan Heideggaer, setiap telaah filosofis
terdapat unsur metafisik.[26]
Metafisika, berbeda dengan kajian-kajian tentang wujud
partikular yang ada pada alam semesta. biologi mempelajari wujud dari organisme
bernyawa, geologi mempelajari wujud bumi, astronomi mempelajari wujud
bintang-bintang, fisika mempelajari wujud perubahan pergerakan dan perkembangan
alam. Tetapi metafisika mempelajari sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh
semua wujud ini.[27]
Kajian tentang metafisika dapat dikatakan sebagai suatu usaha
sistematis, refleksi dalam mencari hal yang berada di belakang fisik dan
partikular. Itu berarti usaha mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal dan
bersifat universal, seperti istilahnya C.E.M joad, dalam bukunya A Critique of logical positivism, yang
dikutip oleh Harold Titus dkk. Sebagai “penyelidikan tentang Tuhan”,[28]
bisa juga dikatakan sebagai “penyelidikan tentang dunia ilahi yang transenden”.[29]
Metafisika Dalam Kesusasteraan Jawa
Dalam perkembangan dan penyebaran agama di jawa
sebelum Islam datang, orang Jawa telah memiliki suatu kepercayaan berupa
animisme dan dinamisme yang memuja roh nenek moyang, dan percaya terhadap
kekuatan gaib yang terdapat pada benda, tumbuh-tumbuhan dan binatang yang
dianggap memiliki kesaktian. Tetapi kepercayaan dan pemujaan diatas belum
memiliki identitas keragaman yang nyata dan sadar. Setelah suku Jawa menerima
pengaruh agama dan kebudayaan Hindu barulah para golongan bangsawan dan
cendikiawan Jawa menerima pengarun Hinduisme yaitu mengerti bahasa sansekerta,
yang akhirnya berkembang dengan mengolah huruf-huruf yang berasal dari Hindu
sebagai dasar untuk menulis bahasa Jawa, d engan menggunakan tulisan huruf Jawa
perhitungan tahun saka, merupakan modal bagi pertumbuhan dan perkembangan
kesusasteraan Jawa.[30]
Dengan masuknya pengaruh kebudayaan India
(Hindu-Budha), kebudayaan dari tanah India ini bersifat ekspansif. Sedangkan
kebudayaan Jawa bersifat yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur
Hinduisme-Budhisme, prosesnya bukan hanya sekedar akulturasi saja. Akan tetapi
yang terjadi adalah kebangkitan kebudayaan jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur
agama dan kebudayaan India. Disini para budayawan Jawa bertindak aktif, yakni
berusaha mengolah unsur agama dan kebudayaan Jawa.
Kisah Mahabharata dan Ramayana dari bahasa sansekerta
yang di sadur dan diterjemahakan kedalam bahasa Jawa merupakan awal yang
membawa pertumbuhan kesusasteraan Jawa, sehingga perkembangan kesusasteraan ini
menjadi sarana efektif mengembangkan berbagai cabang kebudayaan Jawa.
Perkembangan ini melahirkan pula kerajaan-kerajaan besar sesudah abad ke-5 M
seperti Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram kuno, Singasari, Kediri, Majapahit,
Demak, Mataram Islam, dan lain-lain sebagaimana telah diulas sebelumnya
Kerajaan besar ini membawa pertumbuhan masyarakat dan kebudayaan feodal yang
tumbuh subur.[31]
Sejak pertengahan abad ke-10 M hingga kira-kira
pertengahan abad ke-15 M kepustakaan Hindu-Budha mengalami zaman keemasan
naskah-naskah agama Siwa yang menjadi sumber pengetahuan tentang ajaran
kepercayaan Hindu-Jawa mewujudakan buku-buku pegangan bagi pelaksanaan yoga
dalam agama Siwa yang mempunyai maksud untuk memberi saran yang cocok kepada
para murid supaya dapat terhubung dengan Tuhan, dengan Siwa.[32]
Sumber
yang paling utama bagi konsep mengenai Tuhan atau ajaran tentang sangkan
paraning dumadi (metafisika) dan ajaran tentang manunggaling kawula
gusti (mistika) yang berasal dari paham Hinduisme dan Budhisme yang
berkaitan dengan kebudayaan dan masyarakat Jawa pada zaman dahulu kala adalah syair
Hanacaraka selain merupakan penciptaan abjad Jawa juga merupakan karya seni
sastra Jawa yang berisi kebatinan. Penciptaan syair hanacaraka itu ialah
Janabhadra orang Jawa asli yang menjadi dan pendeta Budha Hinayana dan menjabat
Emban Tuwanggana dan mahapatih Mangkubumi dan maharaja Hindu Agastya
bernam Sanjaya (723-744) yang berasal dari ras Arya, Janabhadra adalah orang
yang pertama kali menjawanisasikan Hinduisme dan Budhisme atau yang disebut
istilah “kebatinan” terhadap orang Jawa sendiri menyebutkannya dengan istilah kawruh
Kejawen atau Jawaisme kebatinan ini merupakan kebudayaan spiritual keraton
Jawa lama yang terdapat unsur sinkretisme antara mistik agama Hindu dan Budha
yang berperan sebagai intinya dengan kepercayaan jawa kuno. Menurut
Prof.Dr.H.M.Rasyidi, metafisika atau sangkan paraning dumadi merupakan suatu
dasar konsepsi yang dapat membentuk thesis mistik, moral dan ilmu ghaib atau occultisme.[33]
Sehingga Islam sufi sangat diminati wong cilk karena alam
pikiran tarekat menyuburkan warisan religi animisme-dinamisme yang sebelumnya
sudah menjadi kepercayaan bagi masyarakat terutama orang Jawa yang hidup
didaerah pedesaan dan pesisir.
Keyakinan
orang Jawa yang telah mengenal Islam terhadap Tuhan sangatlah mendalam dan hal
itu dituangkan dalam suatu istilah sebutan Gusti[34]
Allah Ingkang Maha Kuwaos.
Konsep keagamaan mengenai Tuhan dalam kejawen
dilambangkan sebagai Dewaruci diadopsi oleh para pemimpin keagamaan,
cendikiawaan, selama masa kekuasaan Islam masuk ke pulau Jawa, yang menulis
kesusasteraan Jawa dengan unsur-unsur agama Islam di Mataram antara abad ke-16
dan abad ke-18. Kesusasteraan ini terdiri dari serat centini, primbon
dan suluk. Konsep-konsep keagamaan yang berasal dari Dewaruci juga dimasukkan
kedalam beberapa karangan yang mengandung pandangan magis dan mistik yang
sangat berorientasi kepada kejawen, seperti serat Darmogandul dan serat
Gatholoco. Konsep mengenai Tuhan juga dapat dijumpai dalam karya para
pujangga kraton seperti YasadipuraI dan putranya Yasadipura II, serta Raden
Ngabehi Ranggawarsita, dalam gubahannya yang berjudul serat Sasana
Sunu Yasadipura II banyak menulis bait-bait mengenai sifat Tuhan dan
mengenai hakekat dari hubungan antara Tuhan dan manusia.
Dalam konsep mistik Dewaruci terdapat dua
aliran yaitu:
- Pandangan tentang Tuhan yanag bersifat pantheistis
yang menganggap Tuhan sebagai tak terbatas dan sebaliknya dapat berbentuk
kecil yang terdapat pada diri manusia.
- Pandangan monistis yang menganggap Tuhan sebagai
yang maha besar, tetapi berada didalam segala bentuk kehidupan dalam
semesta, termasuk manusia yang hanya makhluk yang sangat kecil diantara
segala yang ada. Kedua macam pandangan ini mempunyai perbedaan pokok dalam
pandangan Islam orthodok yang sifatnya monotheistis yang menganggap bahwa
Tuhan adalah maha besar dan maha kuasa, dan manusia hanya merupakan
makhluk yang tidak berarti jika dibandingkan dengan Tuhan.[35]
Pertumbuhan Islam kejawen dalam hal ini
yang membahas tentang mistik islam
kejawen lantaran mistik Islam menjadi inti kandungannya mengalami masa
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat setelah berdirinya kerajaan
Demak dan kerajaan Jawa Islam Mataram, Diantara peninggalan kepustakaan mistik
Islam kejawen yang paling tua, masih dapat ditemukan, dan menurut perkiraan
berasal dari abad enam belas yaitu: dua manuskrip yang kemudian terkenal dengan
nama Het Boek van Bonang (buku
sunan bonang) dans Een Javaanse Primbon Vit De Zestiende Eeuw (primbon
Jawa abad enam belas) kitab yang terlebih dulu ada dari kedua manuskrip diatas,
adalah serat suluk sukarsa, kitab ini berisi tentang ajaran mistik Islam
kejawen yang mirip dengan kidung Hamzah fansuri.[36]
Metafisika Dalam pandangan Hidup Jawa
Didalam renungan filsafat Nusantara Indonesia terutama
filsafat Jawa konsepsi mengenai Ada bukanlah diperoleh melalui penalaran rasio,
melainkan melalui pengalaman atau penghayatan batin inner experience.
Filsafat Jawa menurut Romo Zoet Mulder, yaitu: “pengetahuan (filsafat) yang
merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan” . Dapatlah dirumusakan bahwa di
Jawa filsafat berarti: cinta kesempurnaan (The love of perfection ) dengan
memakai analogi philosophia Yunani.
Jika kita memakai bahasa Jawa, Maka filsafat berarti: ngudi
kasampurnaan, yaitu berusaha untuk mencapai kesempurnaan. Sebaliknya
philosopia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa menjadi: ngudi kawicaksanan.[37]
Pencarian manusia untuk mencapai kasampurnan terkait
kesadaran akan eksistensinya di dunia. Manusia mencurahkan seluruh
eksistensinya, baik jasmani maupun rohani, untuk mencapai tujuan itu. Usaha itu
dilakukan dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan dengan
menanyakan siapakah diri kita sebenarnya ?, Darimana asalnya ?, dan kemana
akhirnya ?, kegelisahan itu bukan hanya seputar pada pertanyaan-pertanyaan
eksistensi dirinya tetapi terus berlanjut dan tanpa batas akan hakekat segala
sesuatu yang ada di alam semesta. Ungkapan tentang ada ( Ada alam semesta,
Tuhan, Manusia) merupakan hasil pemikiran, pengalaman dan penghayatan manusia,
yang termasuk dalam kajian metafisika.
Ciri-ciri dasarnya adalah :
- Tuhan adalah ada semesta atau ada mutlak
- Alam semesta merupakan pengejawantahan Tuhan
- Alam semesta dan manusia merupakan satu kesatuan
berupa makrokosmos dan mikrokosmos.
Pemikiran filsafat di atas bertolak dari eksistensi
manusia dan alam dunia sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap dengan panca
indera, yang pada akhirnya melalui sebuah pemikiran dan penghayatan yang lebih
mendalam sampai pada sebuah hakikat yaitu dari mana dan kemana semua wujud di
alam semesta ini berawal dan berakhir. Pencarian manusia ini akan berakhir
hanya dengan wikan, weruh, atau dalam istilah filsafat jawa mengerti
akan sangkan paraning dumadi yaitu bahwa manusia dan segala yang ada di
alam semesta ini adalah ciptaan atau berasal dari sang maha pencipta, Tuhan
yang maha esa dan semuanya akan kembali ke asal.[38]
Dalam
ungkapan jawa ada istilah urip iki prasasat mung mampir ngombe yang jika
benar-benar dipahami istilah ini mengandung falsafah yang amat dalam berkaitan
dengan kehidupan manusia di dunia ini yang amat singkat, hingga dibutuhkan
bekal kehidupan selanjutnya yang lebih abadi.[39]
Dalam
serat sasangka jati terdapat dalam hasta sila atau delapan sikap dasar yang terdiri dari
dua pedoman yakni tri-sila dan panca-sila, sebagai pedoman pokok yang harus
dilaksanakan oleh manusia setiap hari agar selamat di dunia dan akhirat yakni
tiga hal yang harus di tuju oleh Budi dan cipta manusia di dalam menyembah
Tuhan yaitu: Eling atau sadar, percaya dan mituhu.
b.
Percaya ialah terhadap sukma sejati atau utusannya yang
disebut guru sejati.
c.
Mituhu adalah setia dan selalu menjalankan perintahnya
yang disampaikan melalui utusannya.
Sebelum manusia dapat melaksanakan trisila tersebut
diatas, ia harus berusaha untuk memiliki watak dan tingkah laku yang terpuji
yang di sebut panca-sila yaitu rila atau rela, nrima atau menerima nasib yang
di terimanya, temen atau setia pada janji, sabar atau lapang dada dan memiliki
budi luhur yang baik.
Kelima
dasar bertindak tersebut di atas merupakan sikap hidup yang harus selalu
dipegang teguh oleh murid dan para guru pangestu yang merupakan salah satu
aliran kebatinan yang ada dan tersebar di jawa. Sikap hidup yang terurai di
atas, dapat dikatakan telah menjadi pedoman umum dan merupakan etika sosial dan
bahkan telah menjadi ukuran moral masyarakat jawa.[41]
BAB
III
Gambaran Umum
Serat Wedhatama
Biografi Penulis Serat Wedhatama (MangkunegaIV)
Kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A) Mangkunegoro IV terlahir dengan nama Raden
Mas Sudiro, lahir pada tanggal 1 Sapar tahun Jimakir 1736 windu Sancaya atau
Masehi tanggal 3 Maret 1811, Minggu Legi jam 11 malam di dalam Hadiwijayan.[42]
Beliau putra
Kanjeng Pangeran Harya Hadiwijaya I yang nomor 7 (atau nomor 3 yang laki-laki).
Dari garis keturunan ayah beliau cucu Bandara Raden Mas Tumenggung Harya
Kusumadiningrat, cicit (buyut) dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Hadiwijaya
yang gugur di Kali Abu daerah Salaman Kedu (gugur tatkala melawan Kompeni/VOC).
Ibu beliau adalah puteri Mangkunegoro II, jadi beliau ini cucu Mangkunegoro II
dan ia diangkat sebagai anak sendiri oleh Mangkunegoro III yang kemudian
dinikahkan dengan anaknya sehingga beliau menjadi menantu Mangkunegoro III.[43]
Ia mendapatkan
pendidikan dari kakeknya Mangkunegara II, setelah berumur 10 tahun oleh
kakeknya ia diserahkan kepada Sarengat alias Pangeran Rio, saudara sepupunya
yang kelak menjadi Mangkunegoro III, Pangeran Rio diserahi tugas untuk mendidik
Sudiro tentang membaca, menulis, berbagai cabang kesenian dan kebudayaan serta
ilmu pengetahuan lainnya lima tahun ia belajar dengan tekun di bawah bimbingan
Pangeran Rio.
Pada usia muda
sekitar 15 tahun ia telah masuk dinas militer, dan menjadi taruna infantri
legiun Mangkunegoro, tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi Kapten, lalu ia
nikah dengan puteri KPH Surya Mataram
dengan sebutan baru RMH Gondokusumo. Karena kecakapan dan memiliki bobot
kepemimpinan yang tinggi ia memperoleh kepercayaan dan terpilih menjadi
pembantu dekat Mangkunegoro III dengan mengangkat pepatih Dalem (patih
raja dalam urusan dalam) selanjutnya menjadi ajudan dalam dan terakhir menjadi
komandan infantri legiun Mangkunegoro dengan pangkat Mayor. Agar lebih menjadi
akrab lagi dengan Mangkunegoro III, maka ia dinikahkan pula dengan puterinya
yang sulung bernama BRA Dunuk.[44]
Karena
kepribadiannya yang kuat, cita-citanya yang tinggi, wawasannya yang jauh,
kewibawaan yaitu dalam kemiliteran, ketrampilannya dalam pemerintahannya,
kedalaman perasaannya dalam agama dan seni budaya, ia diangkat menjadi
pengganti Mangkunegara III setelah beliau wafat, ia diangkat dengan sebutan
Prabu Prangwadana letnan kolonel infantri legiun Mangkunegaran pada tanggal 14
Rabiul Awal tahun Jimawal 1781 atau tanggal 24 Maret 1853. Adapun gelar
Mangkunegoro IV diraihnya pada hari Rabu Kliwon 27 Sura tahun Jimakir 1786,
berdasarkan Surat Keputusan tanggal 16 Agustus 1857 dalam usia 47 tahun.[45]
Mangkunegoro
IV telah mencapai kematangan dalam berbagai bidang sejak sebelum menjadi raja
Mangkunegaran, oleh sebab setelah ia menduduki jabatan tersebut, ia segera
mengambil inisiatif dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, seni budaya
dan lain-lain, sehingga ia memiliki otonomi penuh mengenai urusan ke dalam
seperti halnya Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dan ia berhak
mengatur pemerintahan sendiri, mengatur rakyatnya menjamin ketenteraman dan
kesejahteraan mereka sebagai penguasa penuh di daerahnya. Bahkan ia merasa
sebagainya raja ketiga di samping Sunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta
sehingga pada masa pemerintahannya daerahnya bertambah luas hingga daerah
Sukawati (Sragen) berkat bantuannya kepada pemerintah Inggris dalam menundukkan
pemberontakan Sultan Yogyakarta.[46]
Dalam masa
pemerintahan Mangkunegoro IV diterangkan bahwa beliau mengalami kemajuan dalam
segala bidang sehingga Mangkunegoro IV merupakan negarawan yang cukup
terpandang. Kebesaran Mangkunegoro IV terutama sebagai seorang sastrawan dan
kebudayaan Jawa, dapat dilihat dalam karya-karya sastra yang dihasilkannya
yakin antara lain, Tripama, Manukarsa, Nayakawara, Yogatama, Paramnita,
Pralambang lara kenya, Langen swara dan lain-lain. Dari hasil-hasil karya
sastra di atas, Mangkunegoro IV dipandang sebagai salah seorang sastrawan dalam
masa kebangkitan[47] kembali kesusastraan Jawa baru dalam masa
Surakarta.
Versi Lain Penulis Serat Wedhatama
Tentang siapa
penulis Serat Wedhatama yang asli hingga kini ada beberapa versi dan pendapat.
Ada yang mengatakan bahwa Serat Wedhatama itu hasil karya R. Ng. Ronggowarsito.
Alasan yang mempunyai pendapat ini karena wileda (ikatan) kata demi kata
sedemikian indah dan praktisnya sehingga mudah dihafal, itu ciri khas pujangga
Ronggowarsito.
Ada lagi yang
berpendapat bahwa Wedhatama itu karya Raden Ngabehi Wiryokusumo, seorang
bangsawan Mangkunegaran yang mengabdi di istana dengan Pangkat Mantri
Langenprojo Mangkunegaran.
Meskipun tidak
begitu seterkenal seperti pujangga Ronggowarsito, tetapi ternyata Rn. Ng.
Wiryokusumo. Ini hasil karyanya digemari oleh umum pada zamannya, yaitu antara
lain : Tembang Prana, Panitisastra dan lainnya lagi.[48]
Masalah
tentang siapa pengarang Wedhatama mendapat perhatian penulis Barat antara lain
Dr. P.A. Rinkes yang meragukan jika seluruh penulisan Wedhatama itu dikarang
Mangkunegora IV karena penulisannya telah ikut di dalamnya Pakubuwono IX,
Ronggowarsito, dan Wiryokusumo sebab sastra dan gaya bahasa dalam Wedhatama
sangat berbeda dengan karya-karya yang lain. Tetapi para penulis Indonesia pada
umumnya dan penulis suku Jawa khususnya tidak meragukan bahwa Wedhatama adalah
karya Mangkunegara IV. Hal ini terlihat dari berbagai penelitian di Indonesia
khususnya di Jawa maupun dalam percakapan sehari-hari atau dalam bahasa lisan,
kesemuanya mengatakan bahwa Wedhatama itu adalah karya Mangkunegara IV
dengan beberapa pertimbangan yaitu :
1) Gaya bahasa dan kandungan isi Wedhatama.
2) Pencantuman nama pengarang dalam penerbitan
Wedhatama mencantumkan Mangkunegara IV sebagai pengarangnya.
Berdasarkan
analisis kandungan isi dan berbagai penerbitan yang penulis baca, penulis
cenderung untuk berpendapat bahwa Serat Wedhatama adalah karya Mangkunegara IV,
setidak-tidaknya karya yang dinisbahkan kepadanya.[49]
Arti Serat
Wedhatama
Dilihat dari
arti katanya, Wedhatama berasal dari bahasa Sansekerta. Wedhatama,
Menurut kamus Kawi-Indonesia karangan L. Mardiwasito, kata “wedha” berarti ilmu
pengetahuan[50], sedang kata
“tama” dari utama berarti baik.[51]
Menurut R. Tanojo,
arti kata Wedhatama berarti pepathokaning putra. Dari kata wedha
berarti pepakem (pathokan) dan tama/utama: berarti anak. Pepathokaning
putra berarti pedoman bagi putra putrinya.[52]
Wedha adalah kawruh (bahasa Jawa):
pengetahuan/ilmu/ajaran, sedang tama adalah utama: baik, luhur, dan
sebagainya. Jadi Wedhatama adalah pengetahuan/ilmu/ajaran untuk
mendapatkan/memiliki budi/jiwa yang baik/luhur bagi setiap insan.[53]
S.
de Jong mengartikan Wedhatama sebagai “ajaran kesempurnaan” merupakan sebuah
syair pendek, tetapi tersohor yang mengandung petunjuk-petunjuk praktis
bagaimana hendaknya orang-orang priyayi mengatur hidupnya.[54]
R. Ng. Satyo
Pranowo menyatakan bahwa Wedhatama merupakan atining tatakrama mendorong
dan mendekatkan diri pada tercapainya cita-cita manunggal, yaitu tentang
kebulatan sikap lahir batin berserah diri dan bersatu diri sepenuhnya dengan
Penguasa Agung Yang Maha Tunggal (Tuhan YME).[55]
Ringkasan Isi Serat Wedhatama
Mangkunegara
IV sebagai pengarang Serat Wedhatama bertujuan memberi nasihat dan petunjuk
kepada ahli warisnya untuk memakai dan tetap melaksanakan ilmu agama yang telah
turun temurun menjadi pegangan para kerabat kerajaan, yaitu Agama ageming
aji agama yang disandang para
bangsawan. Nasihat ini dituangkan dalam empat bab, setiap bab memuat pola
tembang pattern of a song yang sesuai dengan isi nasihat, pokok nasihat
adalah petunjuk tata laku susila di dalam masyarakat dan di dalam menjalankan
ibadat Islam, baik secara lahir maupun batin the observance of Islam in
exotic and esoteric sense sehingga mencapai kenyataan dan pengetahuan
tertinggi, ialah ma’rifat.
Bab I menggambarkan tingkah
laku anak muda yang bertindak angkuh karena merasa mempunyai darah bangsawan
dan mengandalkan cara ibadat Islam lahiriah saja.
Bab II memberi tata laku untuk
orang muda dengan mengambil contoh Panembahan Senopati, raja pertama Mataram.
Manusia harus dapat mengurangi keinginan naluri dasarnya, yaitu mengurangi
makan dan tidur serta gelora nafsu lainnya. Untuk memantapkan hidup kemasyarakatannya
harus menguasai tiga hal : arta – wirya –winasis : harta – kedudukan –
pengetahuan.
Bab III menegaskan bahwa untuk
memperoleh ilmu dan pengetahuan, kita harus menjalankan tata laku susila dengan
usaha pertama pandai mengendalikan nafsu angkara murka. Dalam hidup sehari-hari
bersikap sila –trima – legawa : sila – menerima – serah diri.
Bab IV memerinci penerapan
empat macam cara ibadat menuju kesempurnaan diri, yaitu sembah raga, kalbu,
jiwa dan rasa. Wedhatama sebenarnya berisikan hasil pengamatan empiris
secara cermat terhadap penghayatan hidup yang mempunyai tiga dimensi, kehidupan
lahir (inner Life) dan kehidupan alam ghaib (the world of the unseen).
Tata laku susila ditujukan terhadap ketiga dimensi kehidupan itu yang berpuncak
pada penghayatan dan pengetahuan hakekat hidup dengan perjumpaan manusia dengan
Tuhan sebagai Manunggaling Kawula – Gusti.[56]
Sesuai dengan
judulnya Wedhatama yang berarti pengetahuan yang utama, maka Wedhatama
adalah sebuah kitab wulang. Penulisan Serat Wedhatama merupakan
hasil dari refleksi yang dalam dari kondisi kehidupan masyarakat Surakarta pada
khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pada dasarnya isi Serat Wedhatama
berisi tentang cara mendidik anak yang baik dan nasihat-nasihat yang mulia.
Dalam hal ini Serat Wedhatama terbagi menjadi 4 pupuh yaitu : pangkur, sinom,
pucung, gambuh.[57]
1. Pupur Pangkur. Dalam Serat Wedhatama ingin
mengajarkan ilmu yang sempurna, yang menjadi pedoman bagi setiap orang yakni
berisi tentang sopan santun. Syarat utama untuk memperolehnya ialah dengan
mawas diri. Orang yang berhasil mawas diri akan menemukan dalam dirinya
ketenteraman dan keserasian sehingga dapat menguasai dunia, itulah rahmat dari
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pupuh Sinom. Berisi tentang keberhasilan
mawas diri, adegan dalam Senopati, raja Mataram yang dalam hal ini mendapat
gelar wong Ngeksigondo (orang yang hambanya) seorang raja teladan, ramah dan
memasyarakatkan serta secara teratur menjalankan tapa (puasa), tetapi selamanya
beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat. Beliau telah mendapatkan
pengalaman mistik, misalnya di pantai selatan beliau diberi pengertian mengenai
sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh manusia pada umumnya.
3. Pupuh Pucung. Berisi tentang kebijaksanaan
sejati, kebijaksanaan yang sejati tidak pernah terlihat pada suatu tempat,
sebagai contoh orang yang membanggakan pengetahuan dari Mesir,Belanda tetapi
esensi dan sesuatu yang dicari terletak pada kepribadiannya sendiri.
4. Hakekat
kebijaksanaan tersebut adalah
harus selalu dilaksanakan. Kedewasaan hidup menurut Mangkunegara IV meliputi :
lilo (rela) narima dan legawa atau rela batinnya sudah pasrah, tetap sabar
tulus ikhlas serta tawakkal atau berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Barang
siapa ingin menghayati ilmu, harus dengan jalan mengekang hawa nafsu, perasaan
tawakkal berserah diri terhadap kekuasaan Tuhan.[58]
5. Pupuh Gambuh. Yakni mengungkapkan limpahan
anugerah Tuhan YME harus ditebus dengan penghayatan mutlak, didasarkan pada
kesucian batin, menjauhkan diri dari watak angkara murka (sifat egois yang
berlebih-lebihan), serta ketekunan melakukan sembahyang 4 macam.[59]
Ringkasan
ajaran dalam Wedhatama dapat diringkas menjadi 2 kelompok :
1. Ajaran bagi para taruna (golongan muda)
a. Dianjurkan agar mempelajari tata busana dan
sopan santun, serta memahami sumber ilmu pengetahuan yang benar.
b. Hendaknya yang bersikap angkuh atau
menyombongkan diri (mentang-mentang mempunyai ilmu kekebalan) karena ilmu
tersebut sebenarnya tidak dapat diandalkan, jangan sekali-kali bersikap
sombong, mentang-mentang ayahnya berkuasa.
c. Hendaknya dapat menilai dengan cermat segala
macam ajaran sehingga akan dapat menempatkan ajaran tersebut dan memilih ilmu
mana yang sekiranya sesuai dengan bakat pribadinya sendiri.
d. Sadarlah dengan apa yang dimaksud menunaikan
darma, yakni selagi hidup di dunia wajib bagi setiap manusia untuk berikhtiar
meraih trisarana hidup, yaitu wisya, arta, wasis (keilmuwan, harta,
kepandaian).
2. Ajaran
bagi golongan tua
Ilmu atau cara mendidik anak
Bagaimana caranya menentukan atau meyakinkan kebenaran suatu ilmu.
Bagaimana caranya menjalankan sembah sujud kehadirat Tuhan yang maha
kuasa supaya tidak sia-sia usahanya menghadap Tuhan.
Orang yang dianggap tua adalah orang yang berilmu dan memahami ruas-rasa
dan bukanlah tua karena umurnya.[60]
Jadi Wedhatama berarti ilmu pengetahuan tentang
kebaikan. Tetapi bukan hanya pengetahuan yang baik tentang lahirnya saja tetapi
baik dalam artian lahir maupun batin.
E. Naskah Serat Wedhatama
Serat wedhatama
berbeda dengan serat-serat piwulang lainnya, karena kedudukannya yang sangat
penting sejak dahulu sampai sekarang maka tidak mengherangkan jika ia lebugh
banyak diminati, di bahas dan dikaji orang dari pada serat piwulang lainnya.
Permasalahan serat Wedhatama
menyangkut dua hal pertama masalah naskah dan penerbitan, kedua masalah
pengarangnya. Dalam hal ini sekurang-kurangnya ada empat macam versi Wedhatama:
- Wedhatama sayembara, terdiri atas Pupuh pangkur
14 bait, Sinom 15 bait, Gambuh 21 bait, jumlah seluruhnya 65 bait.Dalam
naskah Serat Wedhatama ada dua versi yang satu berjumlah 100 bait
yang terdiri dari tembang : Pangkur, Sinom, Pucung, dan Kinanthi. Tetapi
ada yang hanya terdiri dari 72 bait terdiri dari Pangkur, Sinom, Pucung
dan Gambuh saja. Menurut yang berkeyakinan hanya terdiri dari 72 bait
mengatakan bahwa yang 18 bait itu hanya tambahan saja.
- Wedhatama terbitan Van Der Heidi en.co 1885, di
Surakarta, terdiri atas; Pupuh Pangkur 14 bait, Sinom 15 bait, Pucung 15
bait, Gambuh 20 bait jumlah seluruhnya 69 bait.
- Wedhatama terbitan Ki
Padma Susastra, Pujaarja Java Institut. S.Z. Hadi Sutjipto terdiri dari
Pupuh pangkur 14 bait, Sinom 18 bait,
Pucung 15 bait, Gambuh 25 bait, dan jumlah seluruhnya 72 bait.
- Wedhatama lanjutan
terbitan Java Institut dan Yayasan Mengadeg, terdiri atas 5 Pupuh pangkur
14 bait, Sinom 18 bait, Pucung 15 bait, Gambuh 25 bait, Gambuh (lanjutan)
18 bait, jumlah seluruhnya 100 bait.
Keempat versi Wedhatama
tersebut memperlihatkan beberapa persamaan dan perbedaan tentang jumlah pupuh Wedhatama
versi pertama, kedua dan ketiga memperlihatkan persamaan sedangkan versi
keempat di samping empat Pupuh tersebut masih ada lagi Pupuh lanjutan dan
Kinanti.[61]
Menurut Anjar
Any bahwa Serat Wedhatama yang asli adalah 72 bait dengan alasan sebagai
berikut :
- Di dalam
buku yang bertuliskan huruf Jawa dari museum Mangkunegoro, setelah bait 72
itu ada tanda “titi” artinya selesai. Kemudian pada halaman
sebaliknya ada keterangan
“Sambungan dari Serat Wedhatama yang berdiri sebagai judul
tersendiri. Dan pada akhir bait 100 ada tanda “titi” lagi.
- Dan
kebiasaan memakai kata dapat dilihat bahwa antara 72 bait didepan dan 18
bait terakhir ada tanda “titi” lagi.
- Pada bait 1
s/d 72, apakah akan berganti tembang tentu ada kode. (mulanya wong anom
sami..... akan masuk sinom, “pamucunge wring ..... akan masuk
Pucung, “anggambar mring …..” akan masuk Gambuh).
Tetapi pada
bait 73 dan seterusnya akan masuk
Tembang kinanthi tidak ada kode seperti itu. Hanya setelah tembang itu tembang
kinanthi ada petunjuk tentang Kinanthi Mangka kanthining tumuwuh.[62]
BAB
IV
KONSEP
METAFISIKA DALAM SERAT WEDHATAMA
A. Konsep Tuhan Dalam Serat Wedahatama
1.Tuhan
Sebagai Dzat Yang Mutlak
Dalam setiap
agama selalu diajarkan tentang Tuhan sebagai suatu prinsip dasar dari ajaran
agama itu sendiri dan Tuhan dinyatakan sebagai pencipta semua yang ada ini. Semua
agama prinsip dasarnya adalah keyakinan terhadap Tuhan.[63]
Tuhan yang
merupakan sangkan paran hidup manusia haruslah dipatuhi dan dilaksanakan
segala perintahnya dan dijauhi segala larangannya, agar kehidupan yang manusia
jalani di dunia ini tidaklah menjadi sia-sia. Manusia sebagai makhluk Tuhan
tergantung kepada Tuhan hendaklah manusia berserah diri dan berusaha agar
manusia mendapat rahmat Tuhan.
Orang Jawa
yang terbentuk karena kebudayaan Jawa akibat pengaruh filsafat Hindu dan
filsafat Islam[64], meyakini
terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta, karena dialah penyebab dari segala
kehidupan, dunia dan seluruh alam semesta dan mengakui hanya ada satu Tuhan
(ingkang Maha Esa).
Tuhan mereka
sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Menurut konsepsi agama
Jawa, Tuhan adalah keseluruhan dalam alam dunia ini, yang dilambangkan dengan
wujud suatu makhluk Dewa yang sangat kecil sehingga setiap waktu dapat masuk ke
dalam hati sanubari orang. Tetapi Tuhan sekaligus juga besar dan luas seperti
samudra, tidak berujung dan tidak berpangkal seperti angkasa, dan terdiri dari
semua warna yang ada di dunia ini. Pandangan orang Jawa ini sifatnya
pantheistis.[65]
Konsep
keagamaan Jawa mengenai Tuhan dilambangkan sebagai Dewa Suci diadopsi oleh para
pemuka agama dan para cendekiawan dan orang-orang yang selama kekuasaan Islam
masuk ke pulau Jawa dan menulis kesusasteraan Jawa dengan unsur-unsur agama
Islam di Mataram antara abad ke-16 dan abad ke-18. Kesusasteraan ini terdiri
dari Serat Centhini, Dewa Ruci, Serat Darmo Gandhul, Serat Wedhatama
dan Serat Gatholoco.[66]
Dalam Serat
Wedhatama uraian tentang Tuhan, yakni mengenai zat, sifat, asma dan
af’alnya, sesungguhnya hampir tidak disinggung secara jelas. Namun penyebutan
Tuhan sebagai Dzat yang mutlak disini menggunakan istilah yang berbeda-beda,
sesuai dengan konteksnya. Seperti yang diungkapkan dalam pupuh pocung bait ke
12:
Bathara gung
Inguger graning jajantung
Jenek Hyang Wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar
Angkara
Arti:
Yang maha baik di tempatkan di
Dalam hati, yang maha kuasa
Kerasan ditempat peristishatan
Yang suci. Tidak seperti ulah
Si muda yang menuruti nafsu
angkara.[67]
Kata Bathara
gung pada ungkapan diatas merupakan nama lain untuk penyebutan Tuhan yang
berada pada disetiap manusia, sehingga Tuhan Maha Mengetahui apapun yang
diperbuat oleh hambanya didunia. Oleh karena itu segala perbuatan dan tingkah
laku manusia haruslah diniatkan kepada Tuhan sebagai penghambaan dirinya kepada
sang pencipta yang menguasai segala sesuatu.
Dalam pucuh
pocung bait ke 11 diterangkan :
Lila lamun kelangan nora
Gegetun, trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa ing
Bathara
Arti:
Rela apabila kehilangan tidak
Masygul (kecewa), menerima
(sabar) bila
Mendapat sesuatu yang
menyakitkan
Hati dan orang lain, Tiga:
ikhlas, menyerahkan
Kepada Tuhan.[68]
Maksud dari
bait diatas adalah : manusia adalah makhluk Tuhan dan segala sesuatu yang
terjadi pada alam ini dan manusia tergantung kepada Tuhan. Oleh karena itu
manusia harus berserah diri, sabar dan ikhlas dalam menjalankan kehidupan ini,
manusia dilarang berputus asa apabila segala keinginannya tidak tercapai karena
semuanya adalah milik Tuhan. Manusia hanya wajib berusaha dan sabar menjalankan
perintah Tuhan tetapi segala keputusan diserahkan dan mutlak ada di tangan
Tuhan Yang Esa.
Menurut Ibn Al ’Arabi sebagai salah seorang tokoh sufi besar
Islam berpendapat bahwa Tuhan adalah mutlak, adanya Allah ialah karena dan
untuk dirinya sendiri. Dia tidak terikat dan tidak disebabkan oleh sesuatu yang
lain. Dia tidak menyebabkan segala sesuatu akan tetapi yang menjadikan akibat
dan sebab. Alloh tidak terperikan oleh dan dengan segala sesuatu predikat
apapun, karena ia tunggal. Dia adalah ada mutlak dan tunggal, maka sudah
semestinya ada adanya oleh adanya Allah, dan tentunya ada adalah tunggal.
Secara hakiki, bahwa ada bukanlah yang berganda atau jamak. Jadi dari yang
tunggal mengalir yang ada tunggal, meskipun tampak sebagai kejamakan. Berdasar
itu maka dapat dikatakan bahwa didalam Allah terdapat sesuatu keanekaan yang
tidak bertentangan dengan ketunggalannya, dalam hal ini yang dimaksud adalah
keanekaan logis dan berkaitan dengan yang dapat diungkapkan mengenai ada yang
tunggal, tanpa menghancurkan ketunggalan tersebut[69],
dan af’al Tuhan, Maha ungkapan yang-ada mutlak, yang tunggal, Allah tersebut.
Bagi Ibnu Al’Arabi merupakan kenyataan tertinggi dan mutlak dalam dirinya serta
untuk dirinya sendiri. Dia merupakan Dzat yang menjadi sebab bagi akibat dan
sebab-sebab berikutnya. Sehingga Dia dipandang pula sebagai awal dari yang awal
dan yang akhir. Meskipun tidak akan pernah berakhir, karena keazalian-Nya.
Ke-Tunggalan-Nya menunjukkan pada sisi sifat yang dilekatkan pada-Nya. Sedang
asma (nama) tumbuh sebagai akibat dilekatkannya sifat pada-Nya. Kemudian af’al
(perbuatan) merupakan wahana bagi Dzatnya, yakni sebagai bukti keberadaan-Nya.[70]
Dalam Serat
Wedhatama ada beberapa nama (istilah-istilah) yang digunakan untuk menyebut
Tuhan seperti :
Allah (pangkur bait 12) (Maha Esa)
Bathara Gung (pocung
bait 12) (Maha Agung)
Hyang Wisesa (pocung
bait 12) (Maha Kuasa)
Hyang Manon (gambuh
bait 6) (Maha Melihat)
Hyang Sukma (gambuh
bait 16) (Maha Roh/jiwa)
Adanya
berbagai macam istilah yang digunakan untuk penyebutan Tuhan dan Serat
Wedatama dikarenakan sesuai dengan tingginya kebudayaan Jawa dan khazanah
bahasa Jawa yang amat kaya dan halus sehingga peristilah untuk penyebutan Tuhan
disesuaikan dengan situasi dan kondisi batin hambanya dalam penghayatan kepada
Tuhan yang dianggap sebagai suatu Dzat mutlak.
2.
Yang Fana dan Abadi
Eksistensi
Tuhan bersifat abadi dan tidak pernah berhenti, sehingga Tuhan sesungguhnya
tidak pernah berhenti untuk mencipta dan penciptaan akan terus terjadi, karena
penciptaan adalah bagian dari eksistensi Tuhan sendiri. Kerusakan hanya akan
terjadi dalam wujud-wujud eksistensinya atau dalam ciptaan-Nya, termasuk
manusia sebagai makhluk ciptaannya yang paling sempurna yang kadang bersifat
sombong dan merasa paling hebat dengan kedudukan, harta dan akalnya sehingga
membutakan dirinya sebagai makhluknya yang fana, tetapi pada eksistensi Tuhan
sebagai sang Khaliq tidak akan mengalami kerusakan dan kebinasaan karena Dia
bersifat mutlak dan abadi.[72]
Dalam Serat
Wedhatama diterangkan bahwa alam semesta yang dihuni oleh makhluk hidup
dibedakan menjadi dua alam yakni alam yang selalu berubah (fana’) dan alam yang
tetap (abadi). Konsep mengenai hal tersebut antara lain termuat dalam pupuh
pangkur bait ke 14 yang berbunyi :
Sejatine Kang mangkana
Wus kakenan nugrahaning
Hyang Widhi
Bali alaming ngasuwung,
Tan karem karameyan
Ingkang sipat wisesa
winisesa wus,
Mulih mula mulanira
Mulane wong anom sami.
Arti:
Sebenarnya yang demikian itu
Sudah mendapat anugerah Tuhan
Kembali ke alam kosong,
Tidak mabuk keduniawian
Yang bersifat kuasa menguasai,
Kembali ke asal mula
Dari kutipan diatas ditarik kesimpulan bahwa disamping alam
tempat hidup manusia sekarang ini, dalam Serat Wedhatama berpandangan bahwa ada
suatu alam lainnya yang disebut sebagai alam suwung. Ini merupakan
tempat asal dan sekaligus tempat kembalinya manusia yang dapat memperoleh
karunia Tuhan. Alam sekarang ini disebut pula alam kinaot (pupuh gambuh
bait ke 13) yakni alam yang tinggi tingkatannya atau alam yang sangat istimewa
indahnya.
Oleh karena
kesempurnaan hidup merupakan tujuan utama bagi setiap manusia agar tercapai
kebahagiaan hidup sejati baik pada kehidupan ini (fana’) maupun kehidupan setelah mati. Kebahagiaan hidup
sejati didunia ini bukan diukur dari keadaan terpenuhinya kebutuhan materil
secara melimpah tetapi sebaliknya berupa
pemenuhan kebutuhan yang wajar, adil dan seimbang bagi keperluan jasmani serta
rohaninya.[74]
Disamping
itu alam suwungipun disebut alam
lama maot yang terdapat pada pupuh gambuh bait ke 17 yaitu:
Sayekti luwih perlu,
Ingaranan pepuntoning laku,
Kalakuwan tumrap kang
bangsaning batin,
Sucine lan awas emut,
Mring alaming lama maot.
Arti:
Sebenarnya lebih penting
Disebut penghabisannya
tindakan,
Tindakan yang bersangkutan
dengan batin,
Pembersihnya dengan awas dan
ingat
Kepada alam yang Maha Besar
(dapat memuat)
Alam kelanggengan.[75]
Alam lama amot
(maot) secara harfiah bermakna alam yang dapat memuat dalam waktu yang lama
atau dengan perkataan lain langgeng atau abadi. Dapat pula diartikan sebagai
alam baka atau alam akhir.
Dalam alam akhir
inilah kita akan mengalami kehidupan akhirat sebagai lawan kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat adalah kehidupan yang berjangka panjang, dan jauh, kehidupan
ini akan dialami oleh semua manusia tanpa terkecuali sesudah mati, kehidupan
ini tidak bisa dijelaskan secara keilmuwan, karena diluar jangkauan keilmuwan
sehingga untuk memahami realitas kehidupan akhirat harus melalui perenungan
yang transenden, yang melintasi batas-batas dimensi fisik, ruang dan waktu yang
terbatas. Melalui pengembaraan iman yang cerdas, yang secara ghaib menembus
dinding dan pembatas yang berada dalam ruang dan waktu yang bersifat fisik,
hakikat kehidupan ini tidak berada pada kepentingan-kepentingan duniawi yang
sifatnya sementara seperti permainan yang segera berakhir.
Oleh karena
itu hakikat kehidupan adalah kehidupan akhirat kehidupan jangka panjang yang
hanya bisa dicapai dengan menekan keakuan dititik rendah, sebuah perjalanan
yang amat panjang, yang hanya dapat dihayati dengan menjauhkan diri dari
kesombongan.[76]
Dari uraian
diatas maka jelaslah bahwa bagi Serat Wedhatama ada kehidupan yang abadi
yakni alam suwung yang merupakan alam asal dan tempat kembalinya manusia yang
mendapat karunia Tuhan. Disamping itu alam suwung ini pun merupakan
tempat bersemayamnya Tuhan itu sendiri. Hal ini diungkapkan dalam pupuh pocung bait ke 12 :
“…Hyang
Wisesa
yang bermakna bahwa yang maha kuasa itu bersemayang
dialam yang suci
Dari kehidupan
dunia yang fana’ ini manusia akan menuju ke alam akhirat yaitu alam keabadian.
Dalam Islam kehidupan akhirat adalah kehidupan yang berjangka panjang dan jauh
yaitu sebuah perjalanan yang mengharuskan melalui tahapan-tahapan, baik untuk
istirahat, membersihkan diri atau mengisi dan membawa bekal untuk perjalanan berikutnya yaitu harus mengalami, hari
kiamat, kebangkitan, pengadilan, hukuman dan pembalasan, baik sorga ataupun
neraka adalah bagian dari kehidupan akhirat itu sendiri.
Pada
hakikatnya kehidupan akhirat adalah perjalanan panjang menuju Tuhan, bukan
perjalanan menuju sorga atau menghindari neraka. Karena sesungguhnya kita semua berasal dari Tuhan
dan akan kembali juga kepadanya, perjalanan panjang menuju Allah dalam
kehidupan akhirat dilakukan manusia pada tahapan nafsu dan nafs pada hakikatnya
adalah transendental dari nafs yang terbatas menuju nafs yang tak terbatas
(Tuhan).
B.
Dualisme Yang Tunggal (Manunggaling Kawula Gusti)
Ajaran sangkan
paraning dumadi yang berarti pangkal atau mula dan arah tujuan semua
kejadian, menggambarkan suatu (filsafat) proses, kesinambungan awal-akhir,
bagaimana permulaannya dan juga kesudahannya. Hal ini menumbuhkan pemahaman manungaling
kawula Gusti.
Dalam Islam,
konsep diatas bisa dipahami melalui perkataan yang selalu diucapkan seorang
mukmin jika ada musibah, yaitu innalillahi wa inna ilayhi rojiun
(sesungguhnya semua datang dari Allah dan akan kembali ke Allah). Pemahaman
seperti itu menunjukkan bahwa apa yang menjadi sehat antar awal-akhir hidup
ialah itu kita sendiri[78],
untuk mencapai kemanggulangan antara hamba dan Tuhan (Manunggaling Kawula
Gusti) manusia harus mengatasi belenggu yang mengikat setiap individu dengan
eksistensi fenomenal, seperti nafsu dan rasionalitas duniawi, yang menggiring
manusia pada persepsi yang menyesatkan tentang kebenaran. Seorang yang ingin
mencapai kemanunggalan (ahli mistik) harus bisa mengatasi egoismenya, bebas
dari pamrih dalam melaksanakan kehidupannya.[79]
Kemampuan
untuk memiliki sikap-sikap semacam itu dapat diperoleh dengan hidup sederhana
dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih, tetapi juga kemampuan untuk
berkonsentrasi dengan jalan pengendalian diri dan melakukan berbagai latihan
semedi. Melalui latihan semedi diharapkan agar orang dapat membebaskan dirinya
dari keadaan sekitarnya, sehingga hal ini dapat memberikan keheningan pikiran,
dan membuatnya mengerti dan menghayati hakekat hidup serta keselarasan antara
kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Apabila orang sudah bebas dari beban
kehidupan duniawi, maka orang itu setelah melalui beberapa tahap berikutnya,
yang pada saatnya akan dapat bersatu dengan Tuhan (pembimbing kawula Gusti,
atau Manunggaling Kawula Gusti).[80]
Dalam Serat
Wedhatama disinggung tentang landasan mengenai unsur fundamental realitas
kehidupan yakni terkandung dalam pupuh pangkur bait ke 12 sebagai berikut :
Sapantuk wahyuing Allah
Gya dumilah mangulah ngelmu
bangkit
Bakat mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga
yen mangkono kena sinebut,
wong sepuh
Lire sepuh sepi hawa,
Awas loroning atunggil
Arti :
Barangsiapa mendapatkan wahyu Illahi ia akan
segera memiliki kemampuan yang cemerlang dan mempelajari ilmu. Dan ia akan
mampu mendapatkan dan mengatasi tata tertib bersamadi. Manusia yang demikian
keadaannya baru dapat dikatakan sebagai juga sebab-sebab yang dimaksudkan
dengan tua itu (haruslah mengandung makna) telah terbebas dari hawa nafsu dan
waspada terhadap adanya dua macam unsur yang sebenarnya merupakan dwi tunggal.[81]
Berdasarkan
isi pupuh diatas maka jelaslah bahwa menurut Serat Wedatama unsur
fundamental daripada kenyataan itu adalah yang disebut jiwangga. Jiwangga
adalah kependekan dari dua perkataan dalam bahasa Jawa “jiwa” dan “angga” yang
artinya yakni jiwa dan raga atau badan. Dalam pupuh tersebut juga dijelaskan
sekaligus, bahwa kedua unsur fundamental ini meskipun bagi orang kebanyakan
atau pada umumnya kelihatan sebagai dua, namun bagi semua “sepuh” sebenarnya
dapat diketahui sebagai tunggal. Jadi yang dua unsur tersebut dengan demikian
sebenarnya merupakan satu hal juga. Dalam peristilahan Wedhatama disebut
loroning manunggal (monodualisme).[82]
Dalam
penghayatan paham Manunggaling Kawula Gusti menjadi tujuan hidup bagi
orang yang bijaksana, hal ini diungkapkan dalam pupuh pangkur bait 13 sebagai
berikut:
Tan samar pamoning sukma
Sinuksmaya winahya ing
ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping
Aluyup
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.
Artinya :
Agar tiada ragu terhadap bersatunya sukma
Penghayatan ini terbuka di dalam penyepian tersimpan didalam kalbu Adapun
proses terungkapnya tabir (penutup alam gaib)Laksana terlintasnya dalam kantuk
bagi orang yang sedang mengantuk Penghayatan gaib itu datang laksana hiasan
mimpi.[83]
Dari ungkapan
diatas, Serat Wedhatama mengandung paham kesatuan manusia dengan Tuhan. Manunggaling
Kawula Gusti dapat berarti beradanya manusia dalam Tuhan. Disanalah
tempatnya yang sejati kesanalah ia harus kembali, karena oleh manusia ia
seolah-olah berada diluar Tuhan. Dalam paham adalah bukan Tuhan, tetapi juga
bukan dari pada Tuhan.
Selanjutnya
dalam pupuh gambuh bait 20, 21 dan 22
diterangkan tentang penghayatan makrifat pada Tuhan sebagai berikut :
Tarlen mung pribadinipun,
Kang katon tinonton kono.
Nging aywa salah surup,
Kono ana sajatining urub,
Yeku urub pangarep uriping
budi,
Sumirat-sirat narawung,
Kadya kartika katonton.
Yeku wenganing kalbu,
Kabukane kang
wengku-winengku
Wewengkone wis kawengku neng
sireki,
Nging sira uga kawengku,
Mring kang pindha kartika
byor.
Arti :
Tak lain hanya diri pribadinya
Yang tampak terlihat disitu.
Akan tetapi jangan salah
pengertian
Karena disitu ada nyala sejati,
Yakni nyala yang menghidupkan
budi,
Bersinar gemerlap
Laksana bintang yang tampak.
Itulah proses terbukanya kalbu
Menjadi
nyata (antara Tuhan dan manusia) adalah saling cukup mencakup
Kerajaannya telah tercakup dalam dirian akan
tetapi lain juga dikuasai
Oleh Dzat yang laksana bintang
gemerlapan.[84]
Dalam
penghayatan makrifat diatas tampak apabila rasa was-was telah hilang, yang ada
hanyalah yakin dan percaya akan berlakunya takdir Tuhan.
Banyak
istilah-istilah yang dipakai dalam mistisisme untuk menamai pengalaman mistik
ini seperti, Pamoring Kawula Gusti, Jumbuhing Kawulo Gusti, Curiga Manjing
Warangka, Warangka Manjing Curiga, union Mystica, Manunggal dan lain-lain.
Thomas Aquinas menyebutnya dengan istilah Cognitio dei Experimentalis.
Dalam pencapaian Manunggaling Kawula Gusti ada suatu tahap yang ingin dicapai
manusia kepada level tertinggi yaitu insan
kamil dalam konsep Islam, aturan kepercayaan menyebutnya jalma winilis.
Kalau dalam konsepsi Jawa menyebutnya (artinya penandhita seorang ilmuwan Barat
Tielhard de Chardin memakai istilah titik omega sementara Radhakhishnan
menyebutnya dengan istilah Samvadanya.[85]
Dalam Serat
Wedhatama ilmu yang berusaha mencapai penghayatan dengan Tuhan disebut juga
“Ngelmu Kang Nyata/Ngelmu Luhung/Ilmu Tarekat, untuk mempelajari ngalam nyata
ini orang harus belajar pada seorang guru yang disebut Sarjana Kang Martapi,
yaitu para pertapa yang bijaksana. Dan atau untuk mencapai penghayatan
manunggal dengan Tuhan dalam Serat Wedhatama dirumuskan menjadi sembuh
catur (empat macam sembah). Hal ini diungkapkan dalam pupuh gambuh bait I
Samengko ingsun tutur,
Sembah catur supaya lumuntur,
Dhihin raga, cipta, jiwa rasa, kaki
Ing kono lamun tinemu,
Tanda nugrahanung Manon,
Arti:
Sekarang saya berkata,
Empat buah sembah agar mawaris (kau tiru)
Pertama: Raga, Cipta, Jiwa dan Rasa anakku.
Disitu bila tercapai,
itu pertanda kebesaran Allah.[86]
Sembah Mangkunegara IV ada empat macam, yaitu:
Sembah raga: Menyembah Tuhan yang dilakukan seperti
orang yang melakukan perjalanan, cara bersucinya dengan air (wudlu) dilakukan
secara fisik, lima kali dalam sehari semalam, dijalankan sengan taat, tekun dan
sabar, ditepati segala peraturannya menurut syari'at yang telah ditentukan.
Sembah kalbu: Menyembah Tuhan yang dilakukan dengan
mengutamakan peranan kalbu, yang karenanya tdak disucikan dengan air, tetapi
dengn menyucikan hati dan sifat-sifata tercela, dan berbaai bujukan hawa nafsu
dan dengan memperbanyak latihan spiritual sehingga kalbunya dalam kondisi yang
suci.
Sembah jiwa: Menyembah Tuhan dengan mengutamakan rasa
awas dan ingat selalu kepadaNya, yang perlu dilakukan sehari-hari, yang
disertai ketebalan iman dan keteguhan hati, memegang teguh niat dan tujuan,
tidak mudah terpengaruh dan terkecoh apa saja yang terlihat dalam pengalaman
rohaniahnya.
Sembah rasa: Menyembah Tuhan dengan rasa yang ada
didalam inti jiwa atau ruh, sehingga terasalah hakikat kehidupan yang
sebenarnya, sembah ini dilakukan secara batiniah semata-mata dengan penghayatan
inti jiwa yang paling dalam.[87]
Dalam konsep sembah yang diajarkan oleh Mangkunegara
IV menekankan aspek sembah lahiriah dan batiniah, yang sebetulnya konsep ini
merupakan gradasi dari ajaran tasauf seperti syari'at, tariqat, hakikat,dan
sampai puncaknya pada tahap makrifat.
C. Kosmologi Dalam Serat Wedhatama
Kenyataan alam
semesta pada hakikatnya adalah kenyataan yang dibangun dari kenyataan-kenyataan
besar (makrokosmos) dan kenyataan besar sebagai keseluruhan pada dasarnya
sangat gaib, metafisik, bersifat abstrak, yang pada hakekatnya tersusun dari
satuan kenyataan-kenyataan kecil yang dapat dilihat, ditangkap dan ditimbang.
Tetapi yang abstrak itu tidak berarti tidak ada, karena bangunan dan dasarnya
bangunannya memang berasal dari kenyataan ada dan yang ada pada
kenyataan-kenyataan satuan kecil yang secara empirik dapat dilihat, ditangkap
dan ditimbang.
Dalam tahap
ini, sesungguhnya ada dua kenyataan, yang pertama adalah kenyataan yang besar,
keseluruhan yang abstrak, metafisik, gaib, yang hanya dapat dimengerti melalui
konsep, dan kedua adalah kenyataan kecil (mikokosmos) satuan empirik yang
dilihat, ditangkap dan ditimbang, oleh peralatan indera fisik. Dengan demikian,
pembahasan kosmologi memperoleh posisi pengertian yang lebih jelas, yang pada
dasarnya mencoba membahas hakikat alam semesta sebagai eksistensi Illahi.
Tentang kenyataan alam besar, suatu wujud keseluruhan jenis, yang bersifat
abstrak, yang dapat ditangkap dan dimengerti melalui konsep filsafat.[88]
Dalam Serat
Wedhatama dapat kita jumpai suatu ajaran tentang konsep alam semesta yang
terbagi menjadi tiga dunia (triloka), ajaran ini merupakan pengaruh dari
filsafat Hindu yang mempunyai konsep mengenai dunia, manusia, dunia bawah dan
dunia atas, tetapi dalam uraian ini tidak dijelaskan secara pasti, sebagaimana
yang tercantum dalam pupuh pocung pada bait ke 2:
Angkara gung
Neng angga anggung gumulung,
Gegolonganira
Triloka lekere kongsi,
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Arti:
Nafsu angkara yang besar
Didalam diri selalu berkumpul dengan kelompok
nafsu
Sampai menguasai tiga dunia
Bila dibiarkan berkembang
menjadi bahaya.[89]
Dalam
kandungan diatas terdapat suatu peristiwa tentang perlunya pengolahan raga dan
pengolahan jiwa, agar tercapainya kesatuan dari ke dalam daya kosmos universal
sebagai tujuan untuk mencapai kesempurnaan dan kontrol terhadap sikap
individualitasnya. Tindakan itu berupa pembebasan diri dari belenggu alam
empiris (bersifat materi) menuju pada kondisi eksistensial secara transenden,
dan terciptanya kesatuan mutlak manusia, yang digambarkan secara emanatif,
sebagai penerang (cahaya) dan ia harus kembali ke asalnya (paraninng dumadi)
yaitu Dzat kosmos (yang Illahi/mutlak). Untuk mencapainya kita harus bisa
melawan dan melenyapkan ego kita, yakni perasaan yang menyibukkan kita dengan
hal-hal yang bersifat duniawi dan semu, sehingga menjauhkan kita dari segala
yang konkrit yaitu sang pencipta dunia. Oleh karena itu kita harus mencapai
kebebasan batin secara sempurna, yaitu dari material menuju tingkatan menjadi
diri mutlak yang identik dengan ada mutlak (kenyataan hidup sejati).[90]
Sementara
dalam pupuh gambuh bait ke 18 disebutkan:
Ruktine ngangkah ngukut
Ngiket ngruket triloka
kakukut
jagad agung ginulung lan
gagad alit,
Den kandelkumadel kulup,
Mring kelaping alam kono.
Arti:
Memeliharanya (caranya dengan)
berusaha menguasai, mengikat
merangkul tiga jagad dikuasai
jagad besar diguling dengan
jagad kecil
perkuatlah kepercayaanmu anaku,
terhadap keadaan gemerlapnya
alam itu[91]
Dari urian
diatas dijelaskan bahwa manusia hidup dalam tiga “alam” (triloka) meliputi alam
sejati, badan halus serta badan kasar. “Ada” yang tak berubah adalah suksma
kawekas (Allah SWT). “Ada” yang kembali adalah sukma sejati (Rasulullah)
dan Roh suci adalah “ada” manusia dalam badan halus. Ketiga-tiganya menurut
ajaran R. Soenarto disebut Tri purusa, cermin dari Tri purusa dalam badan halus inilah
yang disebut Aku ego. Ego ini bertugas melindungi roh suci dari dorongan nafsu.
Untuk itulah ego berdaulat dengan kemampuan angan-angannya yang berupa cipta,
nalar, dan pengertian. Dalam hubungannya dengan tri purusa mestinya aku
selalu eling, percaya dan mituhu.[92]
Yang dimaksud eling atau sadar ialah
sadar untuk selalu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Dengan selalu sadar
terhadap Maha Tunggal maka manusia akan dapat bersifat hati-hati hingga dapat
memisah-misahkan yang benar dan yang salah, yang nyata dan yang bukan, yang
berubah dan yang tidak berubah.
Yang dimaksud
percaya ialah percaya terhadap suksma sejati atau utusan-Nya yang disebut guru
sejati. Dengan percaya terhadap utusan-Nya yang disebut guru sejati berarti
pula percaya kepada jiwa peribadinya sendiri serta kepada Allah, karena
ketiga-tiganya adalah tunggal yaitu yang disebut tri purusa tadi.
Sedangkan yang dimaksud mituhu ialah setia kepada dan selalu
melaksanakan segala perintah Nya
yang disampaikan melalui utusanNya. Sebab semua tugas baik yang diterima manusia pada hakekatnya adalah tugas yang
diberikan Allah.[93]
Dengan berlaku
eling, percaya dan untuk manusia akan merasa yakin dan benar bahwa kehidupan
tidak sekedar sekarang ini dan disini saja, melainkan masih berkelanjutan.
Dengan dasar bahwa masih terdapat kehidupan yang nyata yaitu manusia harus
kembali ke asal tujuannya, yakni Dzat hidup/jiwa alam semesta. Dzat
kosmos/Brahman kapan manusia kembali ke asal tujuannya atau manunggal ?
Berdasar pada pandangan mereka yang mengetahui adanya Dzat mutlak dan
tertinggi, sebagai asal tujuan, maka jawaban terhadap pertanyaan tadi adalah
bahwa hal tersebut terjadi dua tahap, pertama manusia sebelum meninggal dunia,
dan kedua setelah manusia meninggal dunia. Meninggalnya manusia dengan dzat
kosmis setelah meninggal dunia tidak dijelaskan secara jelas.[94]
Manusia yang dalam Serat Wedatama mengalami tiga dunia (triloka)
dimaksudkan sebagai alam semesta tempat manusia hidup yang disebutnya juga
sebagai “jagad besar (ageng)” (makrokosmos).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Serat
Wedhatama yang merupakan salah satu hasil dari kebangkitan kesusasteraan Jawa
masa Surakarta bukan saja berisi nasihat tentang etika pergaulan hidup bagi
keluarga kerajaan agar mencapai keselamatan hidup didunia saja tetapi yang
terpenting bagi K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV sebagai pengarang Serat Wedhatama, adalah:
1. Bahwa tujuan hidup tertinggi bagi manusia
adalah mencapai kesempurnaan
dalam pemahaman filosofi Jawa yaitu mengerti akan sangkan paraning dumadi (asal dan
akhir) hidup manusia,
ekisistensi manusia yang menyadari hal ini, akan selalu eling (ingat), dan
memahami akan kekuasaan Tuhan sebagai suatu dzat yang mutlak, untuk itu
totalitas kehidupan manusia yang bersifat sementara ini diserahkan sepenuhnya
kepada sang khalik sebagai suatu bentuk kepatuhan, dengan menjaga perdamaian
dan kesimbangan alam yang sudah menjadi tugas dan kewajiban manusia sebagai
khalifah di muka bumi.
2. Dalam Serat Wedhatama hal ini diterangkan
dalam konsepnya tentang metafisika, walaupun pandangannya yang bersifat metafisis
ini tidak dijelaskan secara rinci dan detail dalam berbagai pupuhnya yang
tersebar, namun dari isinya akan terlihat jelas pandangannya tentang metafisika
yang isinya secara garis besar adalah sebagai berikut :
a. Tuhan merupakan suatu Dzat yang mutlak,
sebagai penyebab dari segala sesuatu sehingga terciptalah makhluk dan dunia
seisinya, dan Dialah pengatur segala
alam ini karena Tuhan mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun
seperti Maha Esa, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Suci dan sebagainya.
b. Dalam Serat Wedhatama dinyatakan bahwa Tuhan
bersemayam (imanen) dalam diri manusia, sehingga tujuan hidup tertinggi bagi
manusia adalah mencapai penghayatan Manunggaling Kawula Gusti (kesatuan hamba
dengan Tuhan) adapun untuk mencapai penghayatan manunggal dengan Tuhan dalam
Serat Wedhatama diterapkan dalam sembah catur (empat macam sembah) yaitu:
sembah raga, sembah kalbu, sembah jiwa dan sembah rasa.
c. Kosmologi dalam Serat Wedhatama yaitu
pandangan tentang alam semesta terdiri dari makro kosmos (jagad kecil)
sementara manusia hidup dalam tiga alam (triloka) meliputi alam sejati, badan
halus serta badan kasar.
d. Kehidupan yang dijalani oleh manusia pada
saat ini didunia adalah bersifat sementara (fana’) dan manusia akan menuju pada
kehidupan selanjutnya yang bersifat
abadi yaitu alam suwung yakni alam dimana tempat kembali dan bersemayamnya
Tuhan, disana manusia akan mempertanggung jawabkan selama hidup didunia.
Dari beberapa
pandangan metafisika dalam Serat Wedhatama diatas sesungguhnya K.G.P.A.A Mangkunegoro
sebagai penulis Serat Wedhatama mengajarkan akan pentingnya kehidupan yang
religius dan menjadi “agama agamaning aji, kang tumrap neng tanah Jawa” yaitu
berpedoman dan berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran agama yang terdapat
dalam Serat Wedhatama khususnya orang Jawa untuk mencapai kesempurnaan sebagai
tujuan hidup tertinggi.
B. Saran-saran
Setelah melakukan
kajian terhadap metafisika jawa dalam serat wedhatama yang penulis angkat dalam
skripsi ini, maka penulis menyampaikan saran sebagai berikut:
1. perlunya
suatu kajian yang lebih mendalam untuk mengungkap unsur-unsur filsafat Jawa
yang terkandung dalam serat wedhatama.
2. Sikap
kritis untuk malaksanakan ajaran yang terkandung dalam serat wedhatama sebagai
ajaran warisan nenek moyang yang mempunyai nilai-nilai luhur, tidak hanya pada
dataran teoritis semata, yang dijadikan bahan renungan dan kajian ilmiah saja.
Daftar Pustaka
Amin, Darori. Islam dan
Kebudayaan Jawa, Yogyakarta : Gama Media,
2000.
Anjar, Any. Menyingkap Serat Wedotomo, Semarang: C.V Aneka Ilmu, 1986.
Ardani, Moh. Al Qur'an Dan
Sufisme mangkunegara IV, Yogyakarta : Dana
Bakti Wakaf, 1995.
Asya'rie, Musa. Filsafat Islam
Sunnah Nabi Dalam Berpikir, Yogyakarta :
Lesfi, 2001.
Bakker,Anton. Ontologi Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan
Dasar-dasar kenyataan, Yogyakarta :
Kanisius, 1992.
Ciptoprawiro, Abdullah. Filsafat
Jawa, Jakarta: Balai Pustaka,
1986.
Chodjim, Ahmad. Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, Jakarta : Serambi, 2003
Geertz, Clifford. Kebudayaan dan Agama,
terj. Francisco Budi Hardiman, Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Hady, Aslam. Metafisika Beberapa Filosof Islam, Jakarata:
Rajawali Pers, 1988.
Herusatoto, Budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa, Yogyakarta: Hanindita, 1985.
Jatman, Darmanto. Psikologi
Jawa, Yogyakarta: Bentang
Budaya, 1999.
Katsoff, Louis. Pengantar
Filsafat, terj. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1988.
Koentjoroningrat. Kebudayaan
Jawa, Jakarta : Balai Pustaka, 1994.
Kusumajaya, Ashad. Pewaris
Ajaran Syekh Siti Jenar: Membuka Pintu Makrifat, Yogyakarta :
Kreasi Wacana, 2003.
Mangkunegara, K.G.P.AA. terj.
Wedatama, Surakarta :
Yayasan Mengadeg, 1978.
Mardiwarsito, L. Kamus Jawa
Kuna Indonesia ,
Flores Ende: Nusa Indah, 1978.
Mulder, Niels. Mistisisme
Jawa, ter. Noor Cholis,
Yogyakarta: Lkis, 2001.
Mulyono, Sri. Wayang dan Filsafat Nusantara, Jakarta: Gunung Agung, 1982.
Murtadho,M. Islam Jawa: Keluar Dari Kemelut Santri VS Abangan, Yogyakarata:Lapera,2002.
Parmono,R. Unsur-unsur
Filsafat Indonesia,
Yogyakarta: Andi Offset, 1985.
Romdon. Tasauf dan Aliran Kebatinan: Perbandingan Antara Aspek-aspek
Mistikisme Islam dengan Aspek-aspek Mistikisme Jawa, Yogyakarta :
Lesfi,1995.
Sardjono, Maria. Paham
Jawa, Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1995.
Simuh, Mistik Islam Kejawen
Raden Ngabehi Ranggawarsita, Jakarta: UI Press, 1988.
_____
Sufisme Jawa, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1996.
_____ Islam dan Pergumulan
Budaya Jawa, Jakarta: Teraju, 2003.
Sujamto, Pandangan Hidup
Jawa, Semarang:
Dahara Prize, 2000.
Subagya, R. Kepercayaan Kebatinan, Kerohaniaan, Kejiwaan dan Agama,
Yogakarta: Kanisius, 1989.
Sudarto. Metode Penelitian Filsafat, Jakarta : Rajawali Pers, 1996.
Sontag. Frederick .
Pengantar Metafisika, Yogyakrta: Pustaka pelajar, 2002.
Tanoyo. R. Wedhatan Djinarwa, Surakarta : Fatriyasa, 1963.
Tebba, Sudirman. Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasauf Al Hallaj di Jawa,
Bandung :
Pustaka Hidayah,2003.
Usman. Mistisisme Serat Wedhatama, Yogyakarta :
Lap Penelitian IAIN Suka, 1999.
Zoet Mulder, P.j. Manunggaling
Kawula Gusti, terj. Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia. 1990.
[1] Darsiti Suratman,
Kehidupan Dunia Keraton Surakarta (1830-1939), (Yogyakarta: Yayasan Untuk
Indonesia, 2000) hlm.4
[5] Sri
Suhandjati Sukri, Perempuan dan
Seksualitas dalam Tradisi Jawa, (Yogyakarta :
Gama Media, 2001), hlm. 45.
[23]
Loren Bagus, Matafisika, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm 18.
[24]
Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Kanisius, 1988),
hlm.154.
[25]
Donny Gahral Adian, Matinya Metafisika Barat, (Jakarta: Komunitas Bambu,
2001), hlm. 6.
[26]
Anton Bakker, Ontologi Metafisika Umum: filsafat Pengada dan Dasar-Dasar
Kenyataan ( Yogyakarta: kanisius, 1992), hlm.15
[27]
Rhomo Philipus Tule (ed.), kamus filsafat (Bandung: Rosda, 1995 ),
hlm.202-203.
[28]
Harold Titus (dkk.), Persoalan-persoalan Filsafat, terj. Rasyidi
(Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 362.
[30]
Simuh, Mistik Islam Kejawen
Raden Ngabehi Ranggawarsita, (Jakarta: UI Press, 1988), hlm.1.
[31]
Simuh, Sufisme Jawa, (Yogyakarta : Bentang Budaya, 2002) hlm.119.
[32]
Harun Hadiwiyono, Konsep Tentang Manusia Dan Kebatinan Jawa, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1983), hlm.31.
[33]
Sufa’at M, Beberapa
Pembahasan Tentang Kebatinan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1984), hlm.27.
[34]
Gusti adalah sebutan untuk
raja dan permaisuri raja (Lihat Koentjoroningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta : Gramedia 1994},
hlm.322.
[41]
Budiono Herusatoto, Simbolisme dan Budaya Jawa, (Yogyakarta: Hanindita,
1985), hlm. 79.
[44] S.Z.Hadisutjipto, Serat Wedatama,
(Surakarta: Yayasan Mengadeg), hlm. 73.
[46] Moh. Ardani, Op.Cit., hlm. 18-19.
[48] Anjar Any, Op. cit., hlm. 15.
[53] Yayasan Mangadeg Surakarta, Terjemahan
Wedhatama, (Jakarta: Pradnya Paramita), 1979, hlm. 47.
[55] R. Ng. Satyo Pranowo, Bahasan dan Wawasan
atas Serat Wedhatama Karya K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV, (Surakarta: KRT.
Sarjono Darmosarkoro), 2000, hlm. 7.
[57] S.Z. Hadisaputro, Serat Wedhatama,
(Jakarta: Pradnya Paramitha, 1975), hlm. 71.
[59] Anjar Any, Op.Cit,hlm. 74-77.
[61] Moh. Ardani, Op.Cit., hlm.40-41.
[65] Pandangan ini sebenarnya lebih tepat disebut
pandangan theopanstis seperti yang disebut oleh ahli kesusasteraan Hindu Vath,
ia menyarankan agar perbedaan antara pandangan pantheistis dan pandangan
theopanstis ialah bahwa yang pertama “Semua adalah Tuhan”. Sedangkan, yang
kedua adalah “Semua menjadi Tuhan.” Ahli kesusasteraan Jawa P.J. Zoet Moelder, yang telah
mengajarkan perbedaan itu menggunakan istilah pantheistis untuk kedua-duanya.
Lihat Koentjoroningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 323.
[68] Ibid,hlm.110..
[69] Zoet Mulder, Manunggaling Kawula Gusti,
Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa, terj. Dick Hattoko,
(Jakarta: Gramedia, 1990), hlm. 26.
[70] Usman, Mistisisme Serat Wedhatama
(Lap. Penelitian intelektual) IAIN, SUKA Yogyakarta, 1999, hlm. 29.
[71] R. Parmono, Op.Cit,. hlm.96
[73] K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, Op.Cit.,
hlm.90.
[75] K.G.P.A.A. Mangkunegara, IV, Op.Cit,. hlm.
119.
[77] K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, Op.Cit,.
hlm.111.
[78] Ashad Kusumajaya, Pewaris Ajaran Syekh
Siti Jenar, Membuka Pintu Maarifat, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hlm.
31.
[83] K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, OP.Cit., hlm.89.
[84] K.G.P.A.A,
Op.Cit,. hlm. 122.
[85] Sujamto, Rekonstruksi dan Revitalisasi
Pandangan Hidup Jawa, (Semarang: Dahara Prize, 2000), hlm. 69-70.
[86] K.G.P.A.A, Mangkunegara IV, Op.Cit,.
hlm.112.
[87] Moh. Ardani, Al Qur'an Dan Sufisme
Mangkunegara IV: Studi Serat-serat piwulang, (Yogyakarta: Dana BhaktiWakaf, 1995) hlm.365.
[89] K.G.P.A.A, Mangkunegara IV, Op.Cit,.
hlm.106.
[90] R. Subagya, Kepercayaan Kebatinan,
Kerohanian, Kejiwaan dan Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 89
Tidak ada komentar:
Posting Komentar